MAKALAH
KESEHATAN MENTAL
TUGAS
III
NAMA :
JESSICA PHOIBE
NPM
: 15514649
KELAS :
2PA19
FAKULTAS
PSIKOLOGI
UNIVERSITAS
GUNADARMA
ATA
2015/2016
A.
Penyesuaian
Diri dan Pertumbuhan
1. Penyesuaian
Diri
Dalam
kenyataannya, tidak selamanya
individu akan berhasil
dalam melakukan penyesuaian diri,
hal itu disebabkan
adanya rintangan atau
hambatan tertentu yang menyebabkan
individu tidak mampu
menyesuaikan diri secara optimal. Hambatan-hambatan tersebut
dapat bersumber dari
dalam diri individu ataupun diluar
diri individu. Dalam
hubungannya dengan hambatan-hambatan tersebut, ada
individu-individu yang mampu
melakukan penyesuaian diri
secara tepat dan juga ada individu yang melakukan penyesuaian diri
secara kurang tepat.
Penyesuaian diri
dalam bahasa aslinya
dikenal dengan istilah adjusment
atau personal adjusment. Penyesuaian
diri dapat ditinjau dari tiga sudut pandang,
(Schneiders dalam Ali, 2005: 173-175)
yaitu:
a. Penyesuaian
diri sebagai adaptasi (adaptation),
pada mulanya penyesuaian diri
diartikan sama dengan
adaptasi, padahal adaptasi
ini pada umumnya lebih
mengarah pada penyesuaian
diri dalam arti
fisik, fisiologis atau biologis.
b. Penyesuaian diri
sebagai bentuk konformitas (conformity), penyesuaian diri
juga
diartikan sama dengan
penyesuaian yang mencakup
konformitas terhadap suatu norma.
Pemaknaan penyesuaian diri
sebagai suatu usaha konformitas, menyiratkan bahwa
disana individu seakan-akan
mendapat tekanan kuat untuk
harus selalu
mampu menghindarkan diri
dari penyimpangan perilaku, baik secara moral, sosial, maupun emosional.
c. Penyesuaian diri
sebagai usaha penguasaan
(mastery), penyesuaian
diri diartikan sebagai usaha
penguasaan, yaitu
kemampuan untuk merencanakan dan
mengorganisasikan respons dalam
cara-cara tertentu sehingga
konflik-konflik, kesulitan dan frustasi tidak terjadi.
Penyesuaian diri merupakan faktor yang
penting dalam kehidupan manusia. Istilah ”penyesuaian” mengacu pada seberapa
jauhnya kepribadian seorang individu berfungsi secara efisien dalam masyarakat
(Hurlock, 2006). Individu menyesuaikan kepribadian yang dimiliki dalam
bertingkahlaku sesuai dengan norma di masyarakat. Salah satu ciri pokok dari
kepribadian yang sehat ialah memiliki kemampuan untuk mengadakan penyesuaian
diri secara harmonis, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap lingkungannya
(Kartono, 2007). Misalnya orang yang ketika pensiun aktif mengikuti kegiatan
sosial karena ia memiliki sifat suka menolong orang lain akan dapat
menyesuaikan diri dengan lingkungan.
Schneiders (1999) menyatakan penyesuaian
diri adalah usaha yang mencakup respon mental dan tingkah laku individu, yaitu
individu berusaha keras agar mampu mengatasi konflik dan frustrasi karena
terhambatnya kebutuhan dalam dirinya, sehingga tercapai keselarasan dan
kehar-monisan dengan diri atau lingkungannya. Konflik dan
frustrasi muncul karena individu tidak dapat menyesuaikan diri dengan masalah yang
timbul pada dirinya.
Chaplin (2002) berpendapat penyesuaian
diri adalah variasi dalam kegiatan organisme untuk mengatasi suatu hambatan dan
memuaskan kebutuhan-kebutuhan serta menegakkan hubungan yang harmonis dengan
lingkungan fisik dan sosial. Misalnya kebutuhan untuk diterima orang lain maka
individu berusaha menjalin relasi sesuai dengan norma masyarakat, mengurangi
perilaku seperti mudah marah, agresif. Bila individu dapat menyelaraskan
kebutuhannya dengan tuntutan lingkungan yaitu orang lain maka akan tercipta
penyesuaian diri yang baik.
Penyesuaian diri yang normal merupakan
cara bereaksi dan bertingkahlaku yang wajar. Pe-nyesuaian diri yang normal
memiliki bebe-rapa karakteristik. Karakteristik penyesuaian diri menurut
Schneiders (1999) adalah:
a. Ketiadaan
emosi yang berlebihan
Penyesuaian yang normal dapat diidentifikasi
dengan tidak ditemukannya emosi yang berlebihan. Individu yang merespon masalah
dengan ketenangan dan kontrol emosi memungkinkan individu untuk memecahkan
kesulitan secara inteligen. Adanya kontrol emosi membuat individu mampu
berpikir jernih terhadap masalah yang dihadapinya dan memecahan masalah dengan
cara yang sesuai. Ketiadaan emosi tidak berarti mengindikasikan abnormalitas
tapi merupakan kontrol dari emosi.
b. Ketiadaan
mekanisme psikologis.
Penyesuaian normal dikarakteristikkan
dengan tidak ditemukannya mekanisme psikologis. Ketika usaha yang dilakukan
gagal, individu mengakui kegagalannya dan berusaha mendapatkannya lagi
merupakan penyesuaian diri yang baik dibandingkan melakukan mekanisme seperti
rasionalisasi, proyeksi, kompensasi. Individu dengan penyesuaian diri yang
buruk berusaha melakukan rasionalisasi dengan menimpakan kesalahan pada orang
lain.
c. Ketiadaan
perasaan frustrasi pribadi
Penyesuaian yang baik terbebas dari
perasaan frustrasi pribadi. Perasaan frus-trasi membuat sulit bereaksi normal
ter-hadap masalah. Misalnya, seorang siswa yang merasa frustrasi dengan hasil
akade-miknya yang terus merosot menjadi sulit untuk mengorganisasikan pikiran,
perasa-an, tingkah laku efisien pada situasi dimana ia merasa frustrasi.
Individu yang merasa frustrasi akan mengganti reaksi normal dengan mekanisme
psikologis atau reaksi lain yang sulit dalam menyesuaikan diri seperti sering
marah tanpa sebab ketika bergaul dengan orang lain.
d. Pertimbangan
rasional dan kemampuan mengarahkan diri (self-direction)
Karakteristik menonjol dari penyesuaian
normal adalah pertimbangan rasional dan kemampuan mengarahkan diri.
Karak-teristik ini dipakai dalam tingkahlaku sehari-hari untuk mengatasi
masalah eko-nomi, hubungan sosial, kesulitan per-kawinan. Kemampuan individu
meng-hadapi masalah, konflik, frustrasi meng-gunakan kemampuan berpikir secara
rasio-nal dan mampu mengarahkan diri dalam tingkah laku yang sesuai
mengakibatkan penyesuaian normal.
e. Kemampuan
untuk belajar
Penyesuaian normal dikarakteristikkan
de-ngan belajar terus-menerus dalam meme-cahkan masalah yang penuh dengan
konflik, frustrasi atau stress. Misalnya orang yang belajar menghindari sikap
egois agar terjadi keharmonisan dalam keluarga.
f. Kemampuan
menggunakan pengalaman masa lalu
Kemampuan menggunakan pengalaman masa
lalu merupakan usaha individu untuk belajar dalam menghadapi masalah.
Penyesuaian normal membutuhkan peng-gunaan pengalaman masa lalu. Penga-laman
masa lampau yang menguntungkan seperti belajar berkebun diperlukan agar
individu dapat menggunakannya untuk pengalaman sekarang ketika menghadapi
kesulitan keuangan dengan membuka usaha menjual tanaman.
g. Sikap
realistik dan objektif
Penyesuaian yang normal berkaitan dengan
sikap yang realistik dan objektif. Sikap realistik dan objektif berkenaan
dengan orientasi individu terhadap kenyataaan, mampu menerima kenyataan yang
dialami tanpa konflik dan melihatnya secara objektif. Sikap realistik dan
objektif berdasarkan pada belajar, pengalaman masa lalu, pertimbangan rasional,
dapat menghargai situasi dan masalah. Sikap realistik dan objektif digunakan
untuk menghadapi peristiwa penting seperti orang yang kehilangan pekerjaan
tetap memiliki motivasi sehingga dapat menerima situasi dan berhubungan secara
baik dengan orang lain.
2. Pertumbuhan
Personal
a. Penekanan
Pertumbuhan, Penyesuaian Diri dan Pertumbuhan
Pertumbuhan adalah perubahan secara
fisiologis sebagai hasil dari proses pematangan fungsi-fungsi fisik yang
berlangsung secara normal. Pertumbuhan dapat juga diartikan sebagai proses transmisi
dari konstitusi fisik (keadaan tubuh atau kondisi jasmaniah) yang herediter
dalam bentuk proses aktif secara berkesinambungan. Jadi, pertumbuhan berkaitan
dengan perubahan kuantitatif yang menyangkut peningkatan ukuran dan struktur
biologis.
Secara umum konsep perkembangan
dikemukakan oleh Werner (1957) bahwa perkembangan berjalan dengan prinsip orthogenetis, perkembangan berlangsung
dari keadaan global dan kurang dari berdiferensiasi sampai keadaan dimana
diferensiasi, artikulasi dan integrasi meningkat secara bertahap. Proses
diferensiasi diartikan sebagai prinsip totalitas pada diri anak. Dari
penghayatan totalitas itu lambat laun bagian-bagiannya akan menjadi semakin
nyata dan bertambah jelas dalam kerangka keseluruhan.
b. Variasi
dalam Pertumbuhan
Pertumbuhan yang di alami dan terjadi
pada diri individu bervariasi, pasti tidaklah sama antara individu yang satu
dengan yang lain. Dan tidak selamanya individu berhasil dalam melakukan
penyesuaian diri, karena terkadang ada rintangan-rintangan tertentu yang
menyebabkan tidak berhasil melakukan penyesuaian diri. Rintangan-rintangan itu
mungkin terdapat dalam dirinya atau mungkin diluar dirinya. Hal ini yang menyebabkan
mengapa adanya variasi dalam pertumbuhan. Variasi Pertumbuhan mencakup kematangan
emosional, kematangan intelektual, kematangan sosial dan tanggung jawab dalam
hubungan intrapersonal.
c. Kondisi-kondisi
untuk Tumbuh
Faktor lainnya yang memengaruhi proses
penyesuaian diri individu yaitu kondisi untuk tumbuh dimana dapat dilihat dari
jawaban atas pertanyaan “dimana dan
seperti apa kondisi individu untuk tumbuh?”
Lingkungan yang berbeda akan menimbulkan
kondisi individu untuk bertumbuh yang berbeda, sehingga menyebabkan penyesuaian
diri untuk kondisi lingkungan untuk tumbuh itu juga akan berbeda. Misalkan
lingkungan dengan kondisi yang serba berkecukupan, kasih sayang yang diberikan
orang tua berlimpah, pola asuh yang demokratis yang diterapkan oleh orang tua
juga akan menciptakan penyesuaian diri dengan kondisi bertumbuh yang berbeda
dengan kondisi lingkungan dimana kebutuhan ekonomi terkecukupi dengan baik,
tetapi kasih sayang yang diberikan dari orangtua ke individu tersebut kurang
serta adanya perasaan bahwa dia diabaikan oleh orangtua nya. Walaupun dari
tingkat yang sama dilihat dari ekonomi yang setingkat, akan tetapi banyak
faktor lain yang membuat penyesuaian diri pada individu menjadi lebih kompleks.
Apalagi jika dibandingkan dengan tingkat ekonomi yang jauh lebih rendah, maka
penyesuaian diri sesuai dengan kondisi lingkungan tumbuh yang lain pun akan
berbeda untuk mengatasi berbagai persoalan hidup yang pelik ini.
Ada beberapa kondisi yang memberi pengaruh
besar bagi pertumbuhan diri, yaitu: perubahan fisik dan lingkungan, peristiwa
hidup yang signifikan, perubahan dalam diri individu, serta kehidupan pribadi. Tiga
fase dalam mengawali pengalaman bertumbuh :
1) Menyatakan
(perlu/ adanya/ mesti) perubahan
2) Merasakan
adanya situasi yang terganggu atau ketidakpuasan seperti: rasa khawatir, cemas,
dan tidak nyaman .Menata ulang pengalaman, dengan memulai persepsi baru dan
penerimaan diri Kierkegaard: “Dalam hidup sangatlah penting untuk memahaminya
dengan kembali ke belakang, tetapi kita haruslah tetap hidup dengan pandangan
ke depan”
Faktor yang mempengaruhi Pertumbuhan
diri yaitu:
1) Faktor
Biologis/genetis
Semua
manusia normal dan sehat pasti memiliki anggota tubuh yang baik seperti tangan,
kaki, kepala, dan lain lain. Hal ini dapat menjelaskan bahwa beberapa kesamaan
dalam kepribadian dan perilaku. Namun ada juga warisan biologis yang bersifat
khusus yang dilihat dari masa konsepsi, bersifat tetap atau tidak berubah
sepanjang kehidupannya, menentukan beberapa karakteristik seperti jenis
kelamin, ras, warna rambut, warna mata, pertumbuhan fisik, sikap tubuh dan
beberapa keunikan psikologis seperti tempramen, potensi genetik yang bermutu
hendaknya dapat berinteraksi dengan lingkungan secara positif sehingga
diperoleh hasil akhir yang optimal.
2) Faktor
Geografis
Setiap
lingkungan fisik yang baik akan membawa kebaikan pula pada penghuninya.
Sehingga menyebabkan hubungan antar individu bisa berjalan dengan baik dan
menimbulkan kepribadian setiap individu yang baik juga. Namun jika lingkungan
fisiknya kurang baik dan tidak adanya hubungan baik dengan individu yang lain,
maka akan tercipta suatu keadaan yang tidak baik pula.
3) Faktor
Kebudayaan
Khusus perbedaan
kebudayaan dapat mempengaruhi kepribadian anggotanya. Namun, tidak berarti
semua individu yang ada didalam masyarakat yang memiliki kebudayaan yang sama
juga memiliki kepribadian yang sama juga.
Dari semua faktor-faktor di atas
pengaruh dari lingkungan seperti keluarga, maupun masyarakat akan memberikan
dampak pertumbuhan bagi individu. Seiring berjalannya waktu maka terbentuklah
individu yang sesuai dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar.
d. Fenomenologi
Pertumbuhan
Fenomenologi memandang manusia hidup
dalam “dunia kehidupan” yang dipersepsi dan
diinterpretasi secara subyektif. Setiap orang mengalami dunia dengan caranya
sendiri. “Alam pengalaman setiap orang berbeda dari alam pengalaman orang
lain.” (Brouwer, 1983). Fenomenologi banyak mempengaruhi tulisan – tulisan Carl
Rogers. Carl Roger (1961) menyebutkan 3 aspek yang memfasilitasi pertumbuhan
personal dalam suatu hubungan :
3) Keikhlasan
kemampuan untuk menyadari perasaan sendiri, atau menyadari kenyataan.
4) Menghormati
keterpisahan dari orang lain tanpa kecuali.
5) Keinginan
yang terus menerus untuk memahami atau berempati terhadap orang lain.
Dalam tulisan-tulisan carl roger
terdapat fenomenologi.
a. “Tiap
individu ada dalam dunia pengalaman yang selalu berubah, dimana dia menjadi
pusatnya”
b. "Individu
bereaksi terhadap medan sebagaimana medan itu dialami dan diamatinya. Bagi
individu dunia pengamatan ini adalah kenyataan (realitas)“
c. “Individu
bereaksi terhadap medan phonomenal sebagai keseluruhan yang terorganisasi (organized whole)“
d. “Organisme
mempunyai satu kecenderungan dan dorongan dasar, yaitu mengaktualisasikan, mempertahankan,
dan mengembangkan diri.“
e. “Pada
dasarnya tingkah laku itu adalah usaha individu yang berarah tujuan (goal directed, doelgericht), yaitu untuk
memuaskan kebutuhan –kebutuhan sebagaiana dialaminya, dalam medan sebagaimana
diamatainya.“
B.
Stress
1. Pengertian
Stress
Stress adalah respons tubuh yang tidak
spesifik terhadap setiap kebutuhan tubuh yang terganggu, suatu fenomena
universal yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari dan tidak dapat dihindari,
setiap orang mengalaminya, stress memberi dampak secara total pada individu
yaitu terhadap fisik, psikologis, intelektual, sosial dan spiritual, stress
dapat mengancam keseimbangan fisiologis. Stress emosi dapat menimbulkan
perasaan negative atau destruktif terhadap diri sendiri dan orang lain. Stress intelektual
akan menganggu persepsi dan kemampuan seseorang dalam menyelesaikan masalah,
stress sosial akan menganggu hubungan individu terhadap kehidupan. (Hans
Selye,1956 ; Davis, et all. 1989 ; Barbara Kozier, et all, 1989)
Menurut Hans Selye dalam bukunya Hawari
(2001) stress adalah respon tubuh yang sifatnya nonspesifik terhadap setiap
tuntutan beban atasnya. Bila seseorang telah mengalami stres mengalami gangguan
pada satu atau lebih organ tubuh sehingga yang bersangkutan tidak lagi dapat menjelaskan
fungsi pekerjaannya dengan baik, maka ia disebut distres. Pada gejala stres, gejala yang dikeluhkan penderita
didominasi oleh keluhan-keluhan somatik (fisik), tetapi dapat pula disertai
keluhan-keluhan psikis. Tidak semua bentuk stres mempunyai konotasi negatif, cukup
banyak yang bersifat positif, hal tersebut dikatakan eustres.
2. Efek-efek
dari Stress
Stress dapat menimbulkan dampak-dampak negative,
seperti menganggu proses berpikir, mengurangi konsentrasi, dan menganggu proses
pembuatan keputusan (Kaplan, 1996). Stress juga dapat mengakibatkan efek-efek
subyektif (seperti kelelahan, harga diri meurun), efek tingkah laku (misalnya
hilang nafsu makan dan tidak tenang), efek fisiologis (tekanan darah meningkat,
kesulitan bernafas) dan efek kognitif (seperti kesulitan berkonsentrasi)
(Cardwell, 1996).
3. Faktor-faktor
Penyebab Stress
Stress merupakan salah satu gejala yang
memiliki faktor-faktor penyebab,dan akan diuraikan secara singkat faktor
individual & sosial yang menjadi penyebab stress dibawah ini.
a. Faktor
sosial
Selain
peristiwa penting, ternyata tugas rutin sehari-hari juga berpengaruh terhadap
kesehatan jiwa, seperti kecemasan dan depresi. Dukungan sosial turut
mempengaruhi reaksi seseorang dalam menghadapi stres. Dukungan sosial mencakup
: Dukungan emosional (seperti rasa dikasihi), dukungan nyata (seperti bantuan
atau jasa) dan dukungan informasi (misalnya nasehat dan keterangan mengenai
masalah tertentu).
b. Faktor
Individual
Takala seseorang
menjumpai stresor dalam lingkungannya, ada dua karakteristik pada stresor
tersebut yang akan mempengaruhi reaksinya terhadap stresor itu yaitu: Berapa
lamanya (duration) ia harus
menghadapi stresor itu dan berapa terduganya stresor itu (predictability).
Menurut Anatan & Ellitan (2009)
adapun faktor-faktor penyebab stres meliputi :
a. Stresor
dari luar organisasi (extra
organizational stresor ) yang meliputi perubahan sosial dan teknologi yang
mengakibatkan perubahan life style
individu, perubahan ekonomi dan finansial yang mempengaruhi pola kerja individu,
mencari the second job.
b. Stresor
dari dalam organisasi (organizational
stresor) yang meliputi kondisi kebijakan, strategi administrasi, struktur
dan desain organisasi, proses organisasi dan kondisi lingkungan kerja.
c. Stresor
dari kelompok dalam organisasi (group
stresor) yang muncul akibat kurangnya kesatuan dalam pelaksanaan tugas
kerja terutama terjadi pada level bawah, kurangnya dukungan dari atasan dalam
melaksanakan tugas yang dibebankan, munculnya konflik antar personal,
interpersonal, dan antar personal.
d. Stresor
dari dalam diri individu (individu
stresor) yang muncul akibat role
ambiguity dan konflik. Seperti beban kerja yang terlalu berat dan kurangnya
pengawasan pihak perusahaan.
4. Tipe-tipe
Stress
Menurut Hans Selya membagi stress
membagi stress dalam 3 tingkatan,yaitu :
a. Eustress
adalah respon stress ringan yang menimbulkan rasa bahagia, senang, menantang,
dan menggairahkan. Dalam hal ini tekanan yang terjadi bersifat positif,
misalnya lulus dari ujian, atau kondisi menghadapi suatu perkawinan.
b. Distress
merupakan respon stress yang buruk dan menyakitkan sehingga tak mampu lagi
diatasi. Sebagai contoh: pertengkaran, kematian pasangan hidup, dan lain-lain.
c. Optimal
stress atau Neustress adalah stress
yang berada antara eustress dan distres, merupakan respon stress yang menekan
namun masih seimbang untuk menghadapi masalah dan memacu untuk lebih bergairah,
berprestasi, meningkatkan produktivitas kerja dan berani bersaing.
Ada beberapa tipe-tipe stressor
psikologis (dirangkum dari folkman, 1984; Coleman,dkk,1984 serta Rice, 1992)
yaitu :
a. Tekanan
(pressures)
Tekanan terjadi karena adanya suatu
tuntutan untuk mencapai sasaran atau tujuan tertentu maupun tuntutan tingkah
laku tertentu. Secara umum tekanan mendorong individu untuk meningkatkan
performa, mengintensifkan usaha atau mengubah sasaran tingkah laku. Tekanan
sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari dan memiliki bentuk yang
berbeda-beda pada setiap individu. Tekanan dalam beberapa kasus tertentu dapat
menghabiskan sumber-sumber daya yang dimiliki dalam proses pencapaian
sasarannya, bahkan bila berlebihan dapat mengarah pada perilaku maladaptive. Tekanan
dapat berasal dari sumber internal atau eksternal atau kombinasi dari keduanya.
Tekanan internal misalnya adalah sistem nilai, self esteem, konsep diri dan komitmen personal. Tekanan eksternal
misalnya berupa tekanan waktu atau peranyang harus dijalani seseorang, atau
juga dpat berupa kompetisi dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat antara
lain dalam pekerjaan, sekolah dan mendapatkan pasangan hidup.
b. Frustasi
Frustasi dapat terjadi apabila usaha
individu untuk mencapai sasaran tertentu mendapat hambatan atau hilangnya
kesempatan dalam mendapatkan hasil yang diinginkan. Frustasi juga dapat
diartikan sebagai efek psikologis terhadap situasi yang mengancam, seperti
misalnya timbul reaksi marah, penolakan
maupun depresi.
c. Konflik
Konflik terjadi ketika individu berada
dalam tekanan dan merespon langsung terhadap dua atau lebih dorongan, juga
munculnya dua kebutuhan maupun motif yang berbeda dalam waktu bersamaan.
5. Ceritakan
apakah kalian pernah mengalami stress dan bagaimana cara kalian mengatasi
stress tersebut.
Ketika kita membicarakan tentang stress
maka kita akan merasakan dan berpikir bahwa semua manusia pernah mengalami
masa-masa stress. Begitu juga dengan saya, saya pribadi sering mengalami stress
ketika mengalami hal-hal yang membuat pusing dan sulit untuk di cari
pemecahannya. Ketika saya mengalami stress hal yang saya lakukan adalah
bergabung dengan tempat ramai, bercanda bersama teman atau makan bersama teman.
Karena jika saya dalam keadaan sendiri maka pikiran-pikiran tersebut akan
selalu ada dalam bayangan saya. Dan ketika keadaan saya lagi sendiri atau
suasana yang hening maka DOA adalah kunci utama. Tuhanlah teman kita berbicara
dan mencurahkan semua. Atau saya juga selalu mendengarkan music untuk
merilekskan pikiran. Maka dengan begitu terkadang masalah tersebut bisa kita
selesaikan.
Daftar
Pustaka :
Indrawati,
Endang sri. dan Fauziah, Nailul. “Attachment
dan Penyesuaian
Diri Dalam Perkawinan”. Jurnal Psikologi Undip. 11. (1), 42-43.
Diri Dalam Perkawinan”. Jurnal Psikologi Undip. 11. (1), 42-43.
Irmaalanda,
Laura. et all. (2007). “Penyesuian Diri yang Mengikuti
Akselerasi ( Studi Pada Siswa SLTP di Jakarta Selatan)”. Jurnal
Provitae. 3. (1), 31-32.
Akselerasi ( Studi Pada Siswa SLTP di Jakarta Selatan)”. Jurnal
Provitae. 3. (1), 31-32.
Rasmun.
(2004). Stress, Koping dan Adaptasi.
Jakarta : Sagung Seto.
Schultz,
Duane. (1991). Psikologi Pertumbuhan :
Model-model Kepribadian Sehat.
Yogyakarta : PT Kanisius.
Yogyakarta : PT Kanisius.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar