Minggu, 24 April 2016

KESEHATAN MENTAL (TUGAS III)



MAKALAH KESEHATAN MENTAL
TUGAS III




NAMA       : JESSICA PHOIBE
NPM           : 15514649
KELAS       : 2PA19




FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS GUNADARMA
ATA 2015/2016

A.   Penyesuaian Diri dan Pertumbuhan
1.      Penyesuaian Diri
Dalam   kenyataannya,   tidak   selamanya   individu   akan   berhasil   dalam melakukan  penyesuaian  diri,  hal  itu  disebabkan  adanya  rintangan  atau  hambatan tertentu  yang  menyebabkan  individu  tidak  mampu  menyesuaikan  diri  secara optimal. Hambatan-hambatan  tersebut  dapat  bersumber  dari  dalam  diri  individu ataupun  diluar  diri  individu.  Dalam  hubungannya  dengan  hambatan-hambatan tersebut,  ada  individu-individu  yang  mampu  melakukan  penyesuaian  diri  secara tepat dan juga ada individu yang melakukan penyesuaian diri secara kurang tepat.
Penyesuaian  diri  dalam  bahasa  aslinya  dikenal  dengan  istilah adjusment atau personal adjusment. Penyesuaian diri dapat ditinjau dari tiga sudut pandang, (Schneiders dalam Ali, 2005: 173-175) yaitu:
a.       Penyesuaian diri sebagai adaptasi (adaptation), pada mulanya penyesuaian diri  diartikan  sama  dengan  adaptasi,  padahal  adaptasi  ini  pada  umumnya lebih  mengarah  pada  penyesuaian  diri  dalam  arti  fisik,  fisiologis  atau biologis.
b.      Penyesuaian  diri  sebagai  bentuk  konformitas (conformity),  penyesuaian diri  juga  diartikan  sama  dengan  penyesuaian  yang  mencakup  konformitas terhadap  suatu  norma.  Pemaknaan  penyesuaian  diri  sebagai  suatu  usaha konformitas, menyiratkan  bahwa  disana  individu  seakan-akan  mendapat tekanan   kuat   untuk   harus   selalu   mampu   menghindarkan   diri   dari penyimpangan perilaku, baik secara moral, sosial, maupun emosional.
c.       Penyesuaian  diri  sebagai  usaha  penguasaan  (mastery),  penyesuaian  diri diartikan     sebagai     usaha     penguasaan,     yaitu     kemampuan     untuk merencanakan  dan  mengorganisasikan  respons  dalam  cara-cara  tertentu sehingga konflik-konflik, kesulitan dan frustasi tidak terjadi.
Penyesuaian diri merupakan faktor yang penting dalam kehidupan manusia. Istilah ”penyesuaian” mengacu pada seberapa jauhnya kepribadian seorang individu berfungsi secara efisien dalam masyarakat (Hurlock, 2006). Individu menyesuaikan kepribadian yang dimiliki dalam bertingkahlaku sesuai dengan norma di masyarakat. Salah satu ciri pokok dari kepribadian yang sehat ialah memiliki kemampuan untuk mengadakan penyesuaian diri secara harmonis, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap lingkungannya (Kartono, 2007). Misalnya orang yang ketika pensiun aktif mengikuti kegiatan sosial karena ia memiliki sifat suka menolong orang lain akan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan.
Schneiders (1999) menyatakan penyesuaian diri adalah usaha yang mencakup respon mental dan tingkah laku individu, yaitu individu berusaha keras agar mampu mengatasi konflik dan frustrasi karena terhambatnya kebutuhan dalam dirinya, sehingga tercapai keselarasan dan kehar-monisan dengan diri atau lingkungannya. Konflik dan frustrasi muncul karena individu tidak dapat menyesuaikan diri dengan masalah yang timbul pada dirinya.
Chaplin (2002) berpendapat penyesuaian diri adalah variasi dalam kegiatan organisme untuk mengatasi suatu hambatan dan memuaskan kebutuhan-kebutuhan serta menegakkan hubungan yang harmonis dengan lingkungan fisik dan sosial. Misalnya kebutuhan untuk diterima orang lain maka individu berusaha menjalin relasi sesuai dengan norma masyarakat, mengurangi perilaku seperti mudah marah, agresif. Bila individu dapat menyelaraskan kebutuhannya dengan tuntutan lingkungan yaitu orang lain maka akan tercipta penyesuaian diri yang baik.
Penyesuaian diri yang normal merupakan cara bereaksi dan bertingkahlaku yang wajar. Pe-nyesuaian diri yang normal memiliki bebe-rapa karakteristik. Karakteristik penyesuaian diri menurut Schneiders (1999) adalah:
a.       Ketiadaan emosi yang berlebihan
Penyesuaian yang normal dapat diidentifikasi dengan tidak ditemukannya emosi yang berlebihan. Individu yang merespon masalah dengan ketenangan dan kontrol emosi memungkinkan individu untuk memecahkan kesulitan secara inteligen. Adanya kontrol emosi membuat individu mampu berpikir jernih terhadap masalah yang dihadapinya dan memecahan masalah dengan cara yang sesuai. Ketiadaan emosi tidak berarti mengindikasikan abnormalitas tapi merupakan kontrol dari emosi.
b.      Ketiadaan mekanisme psikologis.
Penyesuaian normal dikarakteristikkan dengan tidak ditemukannya mekanisme psikologis. Ketika usaha yang dilakukan gagal, individu mengakui kegagalannya dan berusaha mendapatkannya lagi merupakan penyesuaian diri yang baik dibandingkan melakukan mekanisme seperti rasionalisasi, proyeksi, kompensasi. Individu dengan penyesuaian diri yang buruk berusaha melakukan rasionalisasi dengan menimpakan kesalahan pada orang lain.
c.       Ketiadaan perasaan frustrasi pribadi
Penyesuaian yang baik terbebas dari perasaan frustrasi pribadi. Perasaan frus-trasi membuat sulit bereaksi normal ter-hadap masalah. Misalnya, seorang siswa yang merasa frustrasi dengan hasil akade-miknya yang terus merosot menjadi sulit untuk mengorganisasikan pikiran, perasa-an, tingkah laku efisien pada situasi dimana ia merasa frustrasi. Individu yang merasa frustrasi akan mengganti reaksi normal dengan mekanisme psikologis atau reaksi lain yang sulit dalam menyesuaikan diri seperti sering marah tanpa sebab ketika bergaul dengan orang lain.
d.      Pertimbangan rasional dan kemampuan mengarahkan diri (self-direction)
Karakteristik menonjol dari penyesuaian normal adalah pertimbangan rasional dan kemampuan mengarahkan diri. Karak-teristik ini dipakai dalam tingkahlaku sehari-hari untuk mengatasi masalah eko-nomi, hubungan sosial, kesulitan per-kawinan. Kemampuan individu meng-hadapi masalah, konflik, frustrasi meng-gunakan kemampuan berpikir secara rasio-nal dan mampu mengarahkan diri dalam tingkah laku yang sesuai mengakibatkan penyesuaian normal.
e.       Kemampuan untuk belajar
Penyesuaian normal dikarakteristikkan de-ngan belajar terus-menerus dalam meme-cahkan masalah yang penuh dengan konflik, frustrasi atau stress. Misalnya orang yang belajar menghindari sikap egois agar terjadi keharmonisan dalam keluarga.
f.       Kemampuan menggunakan pengalaman masa lalu
Kemampuan menggunakan pengalaman masa lalu merupakan usaha individu untuk belajar dalam menghadapi masalah. Penyesuaian normal membutuhkan peng-gunaan pengalaman masa lalu. Penga-laman masa lampau yang menguntungkan seperti belajar berkebun diperlukan agar individu dapat menggunakannya untuk pengalaman sekarang ketika menghadapi kesulitan keuangan dengan membuka usaha menjual tanaman.
g.      Sikap realistik dan objektif
Penyesuaian yang normal berkaitan dengan sikap yang realistik dan objektif. Sikap realistik dan objektif berkenaan dengan orientasi individu terhadap kenyataaan, mampu menerima kenyataan yang dialami tanpa konflik dan melihatnya secara objektif. Sikap realistik dan objektif berdasarkan pada belajar, pengalaman masa lalu, pertimbangan rasional, dapat menghargai situasi dan masalah. Sikap realistik dan objektif digunakan untuk menghadapi peristiwa penting seperti orang yang kehilangan pekerjaan tetap memiliki motivasi sehingga dapat menerima situasi dan berhubungan secara baik dengan orang lain.
2.      Pertumbuhan Personal
a.       Penekanan Pertumbuhan, Penyesuaian Diri dan Pertumbuhan
Pertumbuhan adalah perubahan secara fisiologis sebagai hasil dari proses pematangan fungsi-fungsi fisik yang berlangsung secara normal. Pertumbuhan dapat juga diartikan sebagai proses transmisi dari konstitusi fisik (keadaan tubuh atau kondisi jasmaniah) yang herediter dalam bentuk proses aktif secara berkesinambungan. Jadi, pertumbuhan berkaitan dengan perubahan kuantitatif yang menyangkut peningkatan ukuran dan struktur biologis.
Secara umum konsep perkembangan dikemukakan oleh Werner (1957) bahwa perkembangan berjalan dengan prinsip orthogenetis, perkembangan berlangsung dari keadaan global dan kurang dari berdiferensiasi sampai keadaan dimana diferensiasi, artikulasi dan integrasi meningkat secara bertahap. Proses diferensiasi diartikan sebagai prinsip totalitas pada diri anak. Dari penghayatan totalitas itu lambat laun bagian-bagiannya akan menjadi semakin nyata dan bertambah jelas dalam kerangka keseluruhan.
b.      Variasi dalam Pertumbuhan
Pertumbuhan yang di alami dan terjadi pada diri individu bervariasi, pasti tidaklah sama antara individu yang satu dengan yang lain. Dan tidak selamanya individu berhasil dalam melakukan penyesuaian diri, karena terkadang ada rintangan-rintangan tertentu yang menyebabkan tidak berhasil melakukan penyesuaian diri. Rintangan-rintangan itu mungkin terdapat dalam dirinya atau mungkin diluar dirinya. Hal ini yang menyebabkan mengapa adanya variasi dalam pertumbuhan. Variasi Pertumbuhan mencakup kematangan emosional, kematangan intelektual, kematangan sosial dan tanggung jawab dalam hubungan intrapersonal.
c.       Kondisi-kondisi untuk Tumbuh
Faktor lainnya yang memengaruhi proses penyesuaian diri individu yaitu kondisi untuk tumbuh dimana dapat dilihat dari jawaban atas pertanyaan  “dimana dan seperti apa kondisi individu untuk tumbuh?”
Lingkungan yang berbeda akan menimbulkan kondisi individu untuk bertumbuh yang berbeda, sehingga menyebabkan penyesuaian diri untuk kondisi lingkungan untuk tumbuh itu juga akan berbeda. Misalkan lingkungan dengan kondisi yang serba berkecukupan, kasih sayang yang diberikan orang tua berlimpah, pola asuh yang demokratis yang diterapkan oleh orang tua juga akan menciptakan penyesuaian diri dengan kondisi bertumbuh yang berbeda dengan kondisi lingkungan dimana kebutuhan ekonomi terkecukupi dengan baik, tetapi kasih sayang yang diberikan dari orangtua ke individu tersebut kurang serta adanya perasaan bahwa dia diabaikan oleh orangtua nya. Walaupun dari tingkat yang sama dilihat dari ekonomi yang setingkat, akan tetapi banyak faktor lain yang membuat penyesuaian diri pada individu menjadi lebih kompleks. Apalagi jika dibandingkan dengan tingkat ekonomi yang jauh lebih rendah, maka penyesuaian diri sesuai dengan kondisi lingkungan tumbuh yang lain pun akan berbeda untuk mengatasi berbagai persoalan hidup yang pelik ini.
 Ada beberapa kondisi yang memberi pengaruh besar bagi pertumbuhan diri, yaitu: perubahan fisik dan lingkungan, peristiwa hidup yang signifikan, perubahan dalam diri individu, serta kehidupan pribadi. Tiga fase dalam mengawali pengalaman bertumbuh :
1)      Menyatakan (perlu/ adanya/ mesti) perubahan
2)      Merasakan adanya situasi yang terganggu atau ketidakpuasan seperti: rasa khawatir, cemas, dan tidak nyaman .Menata ulang pengalaman, dengan memulai persepsi baru dan penerimaan diri Kierkegaard: “Dalam hidup sangatlah penting untuk memahaminya dengan kembali ke belakang, tetapi kita haruslah tetap hidup dengan pandangan ke depan”
Faktor yang mempengaruhi Pertumbuhan diri yaitu:
1)      Faktor Biologis/genetis
Semua manusia normal dan sehat pasti memiliki anggota tubuh yang baik seperti tangan, kaki, kepala, dan lain lain. Hal ini dapat menjelaskan bahwa beberapa kesamaan dalam kepribadian dan perilaku. Namun ada juga warisan biologis yang bersifat khusus yang dilihat dari masa konsepsi, bersifat tetap atau tidak berubah sepanjang kehidupannya, menentukan beberapa karakteristik seperti jenis kelamin, ras, warna rambut, warna mata, pertumbuhan fisik, sikap tubuh dan beberapa keunikan psikologis seperti tempramen, potensi genetik yang bermutu hendaknya dapat berinteraksi dengan lingkungan secara positif sehingga diperoleh hasil akhir yang optimal.
2)      Faktor Geografis
Setiap lingkungan fisik yang baik akan membawa kebaikan pula pada penghuninya. Sehingga menyebabkan hubungan antar individu bisa berjalan dengan baik dan menimbulkan kepribadian setiap individu yang baik juga. Namun jika lingkungan fisiknya kurang baik dan tidak adanya hubungan baik dengan individu yang lain, maka akan tercipta suatu keadaan yang tidak baik pula.
3)      Faktor Kebudayaan
Khusus perbedaan kebudayaan dapat mempengaruhi kepribadian anggotanya. Namun, tidak berarti semua individu yang ada didalam masyarakat yang memiliki kebudayaan yang sama juga memiliki kepribadian yang sama juga.
Dari semua faktor-faktor di atas pengaruh dari lingkungan seperti keluarga, maupun masyarakat akan memberikan dampak pertumbuhan bagi individu. Seiring berjalannya waktu maka terbentuklah individu yang sesuai dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar.
d.      Fenomenologi Pertumbuhan
Fenomenologi memandang manusia hidup dalam “dunia kehidupan” yang  dipersepsi dan diinterpretasi secara subyektif. Setiap orang mengalami dunia dengan caranya sendiri. “Alam pengalaman setiap orang berbeda dari alam pengalaman orang lain.” (Brouwer, 1983). Fenomenologi banyak mempengaruhi tulisan – tulisan Carl Rogers. Carl Roger (1961) menyebutkan 3 aspek yang memfasilitasi pertumbuhan personal dalam suatu hubungan :
3)      Keikhlasan kemampuan untuk menyadari perasaan sendiri, atau menyadari kenyataan.
4)      Menghormati keterpisahan dari orang lain tanpa kecuali.
5)      Keinginan yang terus menerus untuk memahami atau berempati terhadap orang lain.
Dalam tulisan-tulisan carl roger terdapat fenomenologi.
a.       “Tiap individu ada dalam dunia pengalaman yang selalu berubah, dimana dia menjadi pusatnya”
b.      "Individu bereaksi terhadap medan sebagaimana medan itu dialami dan diamatinya. Bagi individu dunia pengamatan ini adalah kenyataan (realitas)“
c.       “Individu bereaksi terhadap medan phonomenal sebagai keseluruhan yang terorganisasi (organized whole)“
d.      “Organisme mempunyai satu kecenderungan dan dorongan dasar, yaitu mengaktualisasikan, mempertahankan, dan mengembangkan diri.“
e.       “Pada dasarnya tingkah laku itu adalah usaha individu yang berarah tujuan (goal directed, doelgericht), yaitu untuk memuaskan kebutuhan –kebutuhan sebagaiana dialaminya, dalam medan sebagaimana diamatainya.“

B.   Stress
1.      Pengertian Stress
Stress adalah respons tubuh yang tidak spesifik terhadap setiap kebutuhan tubuh yang terganggu, suatu fenomena universal yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari dan tidak dapat dihindari, setiap orang mengalaminya, stress memberi dampak secara total pada individu yaitu terhadap fisik, psikologis, intelektual, sosial dan spiritual, stress dapat mengancam keseimbangan fisiologis. Stress emosi dapat menimbulkan perasaan negative atau destruktif terhadap diri sendiri dan orang lain. Stress intelektual akan menganggu persepsi dan kemampuan seseorang dalam menyelesaikan masalah, stress sosial akan menganggu hubungan individu terhadap kehidupan. (Hans Selye,1956 ; Davis, et all. 1989 ; Barbara Kozier, et all, 1989)
Menurut Hans Selye dalam bukunya Hawari (2001) stress adalah respon tubuh yang sifatnya nonspesifik terhadap setiap tuntutan beban atasnya. Bila seseorang telah mengalami stres mengalami gangguan pada satu atau lebih organ tubuh sehingga yang bersangkutan tidak lagi dapat menjelaskan fungsi pekerjaannya dengan baik, maka ia disebut distres. Pada gejala stres, gejala yang dikeluhkan penderita didominasi oleh keluhan-keluhan somatik (fisik), tetapi dapat pula disertai keluhan-keluhan psikis. Tidak semua bentuk stres mempunyai konotasi negatif, cukup banyak yang bersifat positif, hal tersebut dikatakan eustres.
2.      Efek-efek dari Stress
Stress dapat menimbulkan dampak-dampak negative, seperti menganggu proses berpikir, mengurangi konsentrasi, dan menganggu proses pembuatan keputusan (Kaplan, 1996). Stress juga dapat mengakibatkan efek-efek subyektif (seperti kelelahan, harga diri meurun), efek tingkah laku (misalnya hilang nafsu makan dan tidak tenang), efek fisiologis (tekanan darah meningkat, kesulitan bernafas) dan efek kognitif (seperti kesulitan berkonsentrasi) (Cardwell, 1996).
3.      Faktor-faktor Penyebab Stress
Stress merupakan salah satu gejala yang memiliki faktor-faktor penyebab,dan akan diuraikan secara singkat faktor individual & sosial yang menjadi penyebab stress dibawah ini.
a.       Faktor sosial
Selain peristiwa penting, ternyata tugas rutin sehari-hari juga berpengaruh terhadap kesehatan jiwa, seperti kecemasan dan depresi. Dukungan sosial turut mempengaruhi reaksi seseorang dalam menghadapi stres. Dukungan sosial mencakup : Dukungan emosional (seperti rasa dikasihi), dukungan nyata (seperti bantuan atau jasa) dan dukungan informasi (misalnya nasehat dan keterangan mengenai masalah tertentu).
b.      Faktor Individual
Takala seseorang menjumpai stresor dalam lingkungannya, ada dua karakteristik pada stresor tersebut yang akan mempengaruhi reaksinya terhadap stresor itu yaitu: Berapa lamanya (duration) ia harus menghadapi stresor itu dan berapa terduganya stresor itu (predictability).
Menurut Anatan & Ellitan (2009) adapun faktor-faktor penyebab stres meliputi :
a.       Stresor dari luar organisasi (extra organizational stresor ) yang meliputi perubahan sosial dan teknologi yang mengakibatkan perubahan life style individu, perubahan ekonomi dan finansial yang mempengaruhi pola kerja individu, mencari the second job.
b.      Stresor dari dalam organisasi (organizational stresor) yang meliputi kondisi kebijakan, strategi administrasi, struktur dan desain organisasi, proses organisasi dan kondisi lingkungan kerja.
c.       Stresor dari kelompok dalam organisasi (group stresor) yang muncul akibat kurangnya kesatuan dalam pelaksanaan tugas kerja terutama terjadi pada level bawah, kurangnya dukungan dari atasan dalam melaksanakan tugas yang dibebankan, munculnya konflik antar personal, interpersonal, dan antar personal.
d.      Stresor dari dalam diri individu (individu stresor) yang muncul akibat role ambiguity dan konflik. Seperti beban kerja yang terlalu berat dan kurangnya pengawasan pihak perusahaan.
4.      Tipe-tipe Stress
Menurut Hans Selya membagi stress membagi stress dalam 3 tingkatan,yaitu :
a.       Eustress adalah respon stress ringan yang menimbulkan rasa bahagia, senang, menantang, dan menggairahkan. Dalam hal ini tekanan yang terjadi bersifat positif, misalnya lulus dari ujian, atau kondisi menghadapi suatu perkawinan.
b.      Distress merupakan respon stress yang buruk dan menyakitkan sehingga tak mampu lagi diatasi. Sebagai contoh: pertengkaran, kematian pasangan hidup, dan lain-lain.
c.       Optimal stress atau Neustress adalah stress yang berada antara eustress dan distres, merupakan respon stress yang menekan namun masih seimbang untuk menghadapi masalah dan memacu untuk lebih bergairah, berprestasi, meningkatkan produktivitas kerja dan berani bersaing.
Ada beberapa tipe-tipe stressor psikologis (dirangkum dari folkman, 1984; Coleman,dkk,1984 serta Rice, 1992) yaitu : 
a.       Tekanan (pressures)
Tekanan terjadi karena adanya suatu tuntutan untuk mencapai sasaran atau tujuan tertentu maupun tuntutan tingkah laku tertentu. Secara umum tekanan mendorong individu untuk meningkatkan performa, mengintensifkan usaha atau mengubah sasaran tingkah laku. Tekanan sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari dan memiliki bentuk yang berbeda-beda pada setiap individu. Tekanan dalam beberapa kasus tertentu dapat menghabiskan sumber-sumber daya yang dimiliki dalam proses pencapaian sasarannya, bahkan bila berlebihan dapat mengarah pada perilaku maladaptive. Tekanan dapat berasal dari sumber internal atau eksternal atau kombinasi dari keduanya. Tekanan internal misalnya adalah sistem nilai, self esteem, konsep diri dan komitmen personal. Tekanan eksternal misalnya berupa tekanan waktu atau peranyang harus dijalani seseorang, atau juga dpat berupa kompetisi dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat antara lain dalam pekerjaan, sekolah dan mendapatkan pasangan hidup.
b.      Frustasi
Frustasi dapat terjadi apabila usaha individu untuk mencapai sasaran tertentu mendapat hambatan atau hilangnya kesempatan dalam mendapatkan hasil yang diinginkan. Frustasi juga dapat diartikan sebagai efek psikologis terhadap situasi yang mengancam, seperti misalnya  timbul reaksi marah, penolakan maupun depresi.
c.       Konflik
Konflik terjadi ketika individu berada dalam tekanan dan merespon langsung terhadap dua atau lebih dorongan, juga munculnya dua kebutuhan maupun motif yang berbeda dalam waktu bersamaan.
5.      Ceritakan apakah kalian pernah mengalami stress dan bagaimana cara kalian mengatasi stress tersebut.
Ketika kita membicarakan tentang stress maka kita akan merasakan dan berpikir bahwa semua manusia pernah mengalami masa-masa stress. Begitu juga dengan saya, saya pribadi sering mengalami stress ketika mengalami hal-hal yang membuat pusing dan sulit untuk di cari pemecahannya. Ketika saya mengalami stress hal yang saya lakukan adalah bergabung dengan tempat ramai, bercanda bersama teman atau makan bersama teman. Karena jika saya dalam keadaan sendiri maka pikiran-pikiran tersebut akan selalu ada dalam bayangan saya. Dan ketika keadaan saya lagi sendiri atau suasana yang hening maka DOA adalah kunci utama. Tuhanlah teman kita berbicara dan mencurahkan semua. Atau saya juga selalu mendengarkan music untuk merilekskan pikiran. Maka dengan begitu terkadang masalah tersebut bisa kita selesaikan.



Daftar Pustaka :

Indrawati, Endang sri. dan Fauziah, Nailul. “Attachment dan Penyesuaian
            Diri Dalam Perkawinan”. Jurnal Psikologi Undip. 11. (1), 42-43.
Irmaalanda, Laura. et all. (2007). “Penyesuian Diri yang Mengikuti
            Akselerasi ( Studi Pada Siswa SLTP di Jakarta Selatan)”. Jurnal
            Provitae
. 3. (1), 31-32.
Rasmun. (2004). Stress, Koping dan Adaptasi. Jakarta : Sagung Seto.
Schultz, Duane. (1991). Psikologi Pertumbuhan : Model-model Kepribadian Sehat.
            Yogyakarta : PT Kanisius.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar