MAKALAH KESEHATAN MENTAL
TEORI KEPRIBADIAN SEHAT
TUGAS II
NAMA : JESSICA PHOIBE
NPM : 15514649
KELAS : 2PA19
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS GUNADARMA
ATA 2015/2016
TEORI
KEPRIBADIAN SEHAT
I.
ALIRAN
HUMANISTIK
Abraham Maslow (1908-1970) dapat dipandang
sebagai bapak dari Psikologi Humanistik. Gerakan ini merasa tidak puas terhadap
psikologi behavioristik dan psikoanalisis dan memfokuskan penelitiannya pada
manusia dengan ciri-ciri eksistensinya. Psikologi Humanistik mulai di Amerika
Serikat pada tahun 1950 dan terus berkembang. Tokoh-tokoh Psikologi Humanistik
memandang behaviorisme mendehumanisasi manusia. Psikologi Humanistik
mengarahkan perhatiannya pada humanisasi psikologi yang menekankan keunikan
manusia. Menurut Psikologi Humanistik manusia adalah mahkluk kreatif yang
dikendalikan oleh nilai-nilai dan pilihan-pilihannya sendiri bukan oleh
kekuatan-kekuatan ketidaksadaran.
Menurut Maslow psikologi harus lebih
manusiawi, yaitu lebih memusatkan perhatiannya pada masalah-masalah
kemanusiaan. Psikologi harus mempelajari kedalaman sifat manusia, selain
mempelajari yang nampak, juga mempelajari perilaku yang tidak nampak,
mempelajari ketidaksadaran sekaligus mempelajari kesadaran. Instropeksi sebagai
suatu metode penelitian yang telah di singkirkan, harus dikembalikan lagi
sebagai metode penelitian psikologi (Walgito, B.2002:78).
Kepribadian yang sehat menurut
humanistik, perilaku yang mengarah pada aktualisasi diri :
1.
Menjalani hidup seperti seorang anak,
dengan penyerapan dan konsentrasi sepenuhnya.
2.
Mencoba hal-hal baru ketimbang bertahan
pada cara-cara yang aman dan tidak berbahaya.
3. Lebih memperhatikan perasaan diri dalam
mengevaluasi pengalaman ketimbang suara tradisi, otoritas, atau mayoritas.
4.
Jujur. Menghindari kepura-puraan dalam
“bersandiwara”.
5.
Siap menjadi orang yang tidak popular
bila mempunyai pandangan sebagian besar orang.
6.
Memikul tanggung jawab.
7.
Bekerja keras untuk apa saja yang ingin dilakukan.
II.
PENDAPAT
ALLPORT
1.
PERKEMBANGAN
PROPRIUM SEBAGAI DASAR PERKEMBANGAN
KEPRIBADIAN YANG SEHAT
Allport ingin menghilangkan
kontradiksi-kontradiksi dan kekaburan-kekaburan yang terkandung dalam
pembicaraan-pembicaraan tentang “diri” dengan membuang kata itu dan
menggantikannya dengan suatu kata lain yang akan membedakan konsepnya tentang
“diri” dari semua konsep lain. Istilah yang dipilihnya adalah proprium dan
dapat didefinisikan dengan memikirkan bentuk sifat “propriate” seperti dalam kata “appropriate”.
Proprium menunjukkan kepada sesuatu yang dimiliki seseorang atau unik bagi
seseorang. Itu berarti bahwa proprium (atau self) terdiri dari hal-hal atau
proses-proses yang penting dan bersifat pribadi bagi seorang individu,
segi-segi yang menentukan seseorang sebagai yang unik. Allport menyebutnya
“saya sebagaimana dirasakan dan diketahui”.
Proprium itu berkembang dari masa bayi
sampai masa adolesensi melalui tujuh tingkat "diri". Apabila semua
segi perkembangan telah muncul sepenuhnya, maka segi-segi tersebut dipersatukan
dalam satu konsep proprium. Jadi, proprium adalah susunan dari tujuh tingkat
"diri" ini.
1. “Diri”
Jasmaniah. Kita tidak dilahirkan dengan suatu perasaan tentang diri, perasaan
tentang diri bukan bagian dari warisan keturunan kita. Bayi tidak dapat
membedakan antara diri (”saya”) dan dunia sekitarnya. Berangsur-angsur, dengan
makin bertambah kompleksnya belajar dan pengalaman-pengalaman perseptual, maka akan
berkembang suatu perbedaan yang kabur antara sesuatu yang ada ”dalam saya” dan
hal-hal lain “diluarnya”. Ketika bayi menyentuh, melihat, mendengar dirinya,
orang-orang lain, dan benda-benda, perbedaan itu menjadi lebih jelas. Kira-kira
pada usia 15 bulan, maka muncullah tingkat pertama perkembangan proprium-diri
jasmaniah.
2. Identitas
Diri. Pada tingkatan kedua perkembangan, muncullah perasaan identitas diri.
Anak mulai sadar akan identitasnya yang berlangsung terus sebagai seorang yang
terpisah. Allport berpendapat bahwa segi yang sangat penting dalam identitas
diri adalah nama orang. Nama itu menjadi lambang dari kehidupan seseorang yang
mnegenal dirinya dan membedakannya dari semua diri yang lain di dunia.
3. Harga
Diri. Tingkat ketiga dalam perkembangan proprium ialah timbulnya harga diri.
Hal ini menyangkut perasaan bangga dari anak sebagai suatu hasil dari belajar
mengerjakan benda-benda atas usahanya sendiri. Pada tingkat ini, anak ingin
membuat benda-benda, menyelidiki dan memuaskan perasaan ingin tahunya tentang
lingkungan, memanipulasi dan mengubah lingkungan itu. Allport percaya bahwa hal
ini merupakan suatu tingkat perkembangan yang menentukan, apabila orang tua
menghalangi kebutuhan anak untuk menyelidiki maka perasaan harga diri yang
timbul dapat dirusakkan. Akibatnya dapat timbul perasaan hina dan marah.
4. Perluasan
Diri (Self Extension). Tingkat
perkembangan diri berikutnya, perluasan diri, mulai sekitar usia 4 tahun. Anak
sudah mulai menyadari orang-orang lain dan benda-benda dalam lingkungannya dan
fakta bahwa beberapa diantaranya adalah milik anak tersebut.
5. Gambaran
Diri. Gambaran diri berkembang pada tingkat berikutnya. Hal ini menunjukan
bagaimana anak melihat dirinya dan pendapatnya tentang dirinya. Gambaran ini
(atau rangkaian gambaran-gambaran) berkembang dari interaksi-interaksi antara
orang tua dan anak.
6. Diri
Sendiri Pelau Rasional. Setelah anak mulai sekolah, diri sebagai prilaku
rasional mulai timbul. Aturan-aturan dan harapan-harapan baru dipelajari dari
guru-guru dan teman sekolah serta hal yang lebih penting ialah diberikannya
aktivitas-aktivitas dan tantangan-tantangan intelektual. Anak belajar bahwa dia
dapat memecahkan masalah-masalah dengan menggunakan proses-proses yang logis
dan rasional.
7. Perjuangan
Proprium (Propriate Striving). Dalam
masa adolesensi, Perjuangan Proprium (Propriate
Striving) –tingkat terakhir dalam perkembangan diri (selfhood)- timbul. Allport percaya bahwa masa adolesensi merupakan
suatu masa yang sangat menentukan. Orang sibuk dalam mencari identitas diri
yang baru, sangat berbeda dari identitas diri pada usia 2 tahun.
2.
CIRI-CIRI
KEPRIBADIAN YANG MATANG MENURUT ALPORT
Tujuh
kriteria kematangan ini merupakan pandangan-pandangan Allport tentang
sifat-sifat khusus dari kepribadian sehat.
1. Perluasan
Perasaan Diri
Ketika
diri berkembang, maka diri itu meluas menjangkau banyak orang dan benda.
Mula-mula diri berpusat hanya pada individu, kemudian ketika lingkaran
pengalaman bertumbuh maka diri bertambah luas meliputi nilai-nilai dan
cita-cita yang abstrak. Dengan kata lain, ketika orang menjadi matang, dia
mengembangkan perhatian-perhatian diluar diri. Akan tetapi, tidak cukup hanya
berinteraksi dengan sesuatu dan seseorang diluar diri, seperti pekerjaan. Orang
harus menjadi partisipan yang langsung dan penuh. Allport menamakan hal ini
”partisipasi otentik yang dilakukan oleh orang dalam beberapa suasana yang
penting dari usaha manusia”. Orang harus meluaskan diri ke dalam aktivitas.
2. Hubungan
Diri yang Hangat dengan Orang-Orang Lain
Allport
membedakan dua macam kehangatan dalam hubungan dengan orang-orang lain.
Kapasitas untuk keintiman dan kapasitas untuk perasaan terharu. Orang yang sehat secara psikologis mampu
memperhatikan keintiman (cinta) terhadap orang tua, anak, partner, teman akrab.
Apa yang dihasilkan oleh kapasitas untuk keintiman ini adalah suatu perasaan
perluasan diri yang berkembang baik. Orang mengungkapkan partisipasi otentik
dengan orang dicintai dan memperhatikan kesejahteraannya; hal ini sama
pentingnya dengan kesejahteraan individu sendiri. Syarat lain bagi kepastian
untuk keintiman ialah suatu perasaan diri yang berkembang dengan baik.
3. Keamanan
Emosional
Sifat
dari kepribadian yang sehat ini meliputi beberapa kualitas. Kualitas utama
adalah penerimaan diri. Kepribadian-kepribadian yang sehat mampu menerima semua
segi dari ada mereka, termasuk kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan
tanpa menyerah secara pasif pada kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan
tersebut. Misalnya, orang-orang yang matang dapat menerima dorongan seks mereka
tanpa menjadi terlalu sopan atau tertekan seperti yang dapat terjadi dengan
orang-orang yang neurotis. Orang-orang yang sehat mampu hidup dengan ini dan
segi-segi lain dalam kodrat manusia, dengan sedikit konflik dalam diri mereka
atau dengan masyarakat. Mereka berusaha bekerja sebaik mungkin dan dalam proses
mereka berusaha memperbaiki diri mereka.
4. Persepsi
Realitis
Orang-orang
yang sehat memandang dunia mereka secara objektif. Sebaliknya, orang-orang yang
neurotis kerap kali harus merubah realitas supaya membuatnya sesuai dengan
keinginan-keinginan, kebutuhan-kebutuhan, dan ketakutan-ketakutan mereka
sendiri. Orang-orang yang sehat tidak perlu percaya bahwa orang-orang lain atau
situasi-situasi semuanya jahat atau semuanya baik menurut suatu prasangkan
pribadi terhadap realitas. Mereka menerima realitas sebagaimana adanya.
5. Keterampilan-keterampilan
dan Tugas-tugas
Allport
menekankan pentingnya pekerjaan dan perlunya menenggelamkan diri sendiri
didalamnya. Keberhasilan dalam pekerjaan menunjukan perkembangan
keterampilan-ketrampilan dan bakat-bakat tertentu suatu tingkat kemampuan,
tetapi tidaklah cukup hanya memiliki keterampilan-keterampilan relevan, kita
harus menggunakan keterampilan-keterampilan itu secara ikhlas, antusias, melibatkan
dan menempatkan diri sepenuhnya dalam pekerjaan kita.
6. Pemahaman
Diri
Kriterium
ini terkandung dalam petunjuk lama ”Kenalilah dirimu” tentu merupakan suatu
tugas yang sulit. Usaha untuk mengetahui diri secara objektif mulai pada awal
kehidupan dan tidak pernah berhenti, tetapi ada kemungkinan mencapai suatu
tingkat pemahaman diri (self objectification) tertentu yang berguna dalam
setiap usia. Kepribadian yang sehat mencapai suatu tingkat pemahaman diri yang
lebih tinggi dari pada orang-orang yang neurotis. Orang
yang memiliki suatu tingkat pemahaman diri (self objectification) yang tinggi
atau wawasan diri tidak mungkin memproyeksikan kualitas-kualitas pribadinya
yang negatif kepada orang-orang lain. Orang itu akan menjadi hakim yang saksama
terhadap orang-orang lain, dan biasanya dia diterima dengan baik oleh
orang-orang lain. Allport juga mengemukakan bahwa orang yang memiliki wawasan
diri yang lebih baik adalah lebih cerdas dari pada orang yang memiliki wawasan
diri yang kurang.
7. Filsafat
Hidup yang Mempersatukan
Orang-orang
yang sehat melihat kedepan, didorong oleh tujuan-tujuan dan rencana-rencana
jangka panjang. Orang-orang ini mempunyai suatu perasaan akan tujuan, suatu
tugas untuk bekerja sampai selesai, sebagai batu sendi kehidupan mereka dan ini
memberi kontinuitas bagi kepribadian mereka. Allport
menyebut dorongan yang mempersatukan ini ”arah” (directness), dan lebih
kelihatan pada kepribadian-kepribadian yang sehat dari pada orang-orang yang
neurotis. Arah itu membimbing semua segi kehidupan seseorang menuju suatu
tujuan (atau rangkaian tujuan) serta memberikan orang itu suatu alasan untuk
hidup. Kita membutuhkan tarikan yang tetap dari tujuan-tujuan yang berarti,
tanpa tujuan-tujuan itu kita mungkin akan mengalami masalah-masalah
kepribadian. Jadi, bagi
Allport rupanya mustahil memiliki suatu kepribadian yang sehat tanpa
aspirasi-aspirasi dan arah kemasa depan. Memiliki
nilai-nilai yang kuat, jelas memisahkan orang yang sehat dari orang yang
neurotis. Orang yang neurotis tidak memiliki nilai-nilai atau hanya memiliki
nilai-nilai yang terpecah-pecah dan bersifat sementara. Nilai-nilai dari orang
yang neurotis tidak tetap atau tidak cukup kuat untuk mengikat atau
mempersatukan semua segi kehidupan.
III.
PENDAPAT
ROGERS
1.
Perkembangan
Kepribdian “Self”
Self
atau self concept adalah konsep
menyeluruh yang terorganisir mengenai pengalaman yang berhubungan dengan aku
dan membedakan aku dari yang bukan aku. Self
concept menggambarkan
konsep orang mengenai dirinya sendiri, ciri-ciri yang dianggapnya menjadi
bagian dari dirinya, pandangan diri dalam berbagai perannya dalam kehidupan dan
dalam kaitannya dengan hubungan interpersonal.
Konsep pokok dari teori kepribadian
Rogers adalah self, sehingga dapat
dikatakan self merupakan struktur
kepribadian yang sebenarnya. Carl Rogers mendeskripsikan the self atau self-structure sebagai sebuah konstruk
yang menunjukan bagaimana setiap individu melihat dirinya sendiri. Self ini dibagi 2 yaitu : Real
Self
adalah keadaan diri individu saat ini. Sedangkan, Ideal
Self
adalah keadaan diri individu yang ingin dilihat oleh individu itu sendiri atau
apa yang ingin dicapai oleh individu tersebut.
Perhatian Rogers yang utama adalah
bagaimana organisme dan self dapat
dibuat lebih kongruen atau sebidang.
Artinya ada saat dimana self berada
pada keadaan inkongruen, kongruensi self
ditentukan oleh kematangan, penyesuaian, dan kesehatan mental, self yang kongruen adalah yang mampu
untuk menyamakan antara interpretasi dan persepsi “self I” dan “self me”
sesuai dengan realitas dan interpretasi
self yang lain. Semakin lebar jarak antara keduanya, semakin lebar
ketidaksebidangan ini. Semakin besar ketidaksebidangan, maka semakin besar pula
penderitaan yang dirasakan dan jika tidak mampu maka akan terjadi ingkongruensi atau mal-adjustment atau neurosis.
Misalkan anda memiliki ideal self sebagai
orang yang memiliki bentuk tubuh ideal serta memiliki prestasi yang tinggi
dibanding teman–teman anda, tetapi nyatanya real
self anda adalah orang yang tidak memiliki bentuk tubuh yang ideal serta
prestasi anda adalah rata-rata dengan teman-teman anda maka akan ada
kesenjangan antara real self dan ideal self yang dapat menimbulkan
kecemasan.
Bila seseorang, antara “self concept” nya dengan organisme mengalami
keterpaduan, maka hubungan itu disebut kongruen (cocok) tapi bila sebaliknya
maka disebut Inkongruen (tidak cocok) yang bisa menyebabkan orang mengalami
sakit mental, seperti merasa terancam, cemas, defensive dan berpikir kaku serta
picik. Sedangkan ciri-ciri orang yang mengalami sehat secara psikologis
(kongruen), dalam Syamsu dan Juntika (2010:145) disebutkan sebagai berikut :
1. Seseorang
mampu mempersepsi dirinya, orang lain dan berbagai peristiwa yang terjadi di
lingkungannya secara objektif.
2. Terbuka
terhadap semua pengalaman, karena tidak mengancam konsep dirinya.
3. Mampu
menggunakan semua pengalaman
4. Mampu
mengembangkan diri ke arah aktualisasi diri (fully functioning person).
2.
Peranan
Positive Regard dalam Pembentukan Kepribadian Individu
Setiap manusia memiliki kebutuhan dasar
akan kehangatan, penghargaan, penerimaan, pengagungan, dan cinta dari orang
lain (warmth, liking, respect, sympathy & acceptance, love & affection). Kebutuhan ini disebut need for positive regard. Positive
regard terbagi menjadi 2 yaitu:
Conditional
positive regard (bersyarat). Conditional
positive regard atau penghargaan positif bersyarat misalnya kebanyakan orang tua
memuji, menghormati, dan mencintai anak dengan bersyarat,yaitu sejauh anak itu
berpikir dan bertingkah laku seperti dikehendaki orangtua.
Unconditional
positive regard (tak bersyarat). Unconditional positive regard disini anak tanpa syarat apapun
dihargai dan diterima sepenuhnya.
Rogers menggambarkan pribadi yang
berfungsi sepenuhnya adalah pribadi yang mengalami penghargaan positif tanpa
syarat. Ini berarti dia dihargai, dicintai karena nilai adanya diri sendiri
sebagai person sehingga ia tidak bersifat defensif namun cenderung untuk
menerima diri dengan penuh kepercayaan. Setelah self dan organism bisa
menjadi suatu kesatuan yang baik, namun ketika ia masuk ke lingkungan sosial
luar yang beperan sebagai medan phenomenal. Belum tentu ia dapat berkembang
dengan sebagaimana mestinya.
Untuk mengatasi tekanan yang dirasakan,
Rogers berpendapat terdapat cara untuk mengatasinya, yaitu melalui Pertahanan.
Ketika individu berada dalam incongruity maka
pada saat itu individu berada dalam situasi terancam. Menjelang situasi yang
mengancam itu individu akan merasa cemas. Salah satu cara menghindarinya adalah
dengan melarikan diri dalam bentuk psikologis dengan menggunakan
pertahanan-pertahanan. Dua macam cara pertahanan adalah pengingkaran dan
distorsi perseptual.
1. Pengingkaran
adalah individu memblokir situasi yang mengancam melalui menyingkirkan kenangan buruk atau
rangsangan yang memancing kenangan itu muncul dari
kesadaran (menolak untuk mengingatnya).
2. Distorsi
perseptual adalah penafsiran kembali sebuah situasi sedemikian rupa sehingga tidak lagi dirasakan terlalu
mengancam. Ketika pertahanan yang dilakukan seseorang runtuh dan merasa dirinya
hancur berkeping-keping disebut sebagai psikosis.
Akibatnya perilaku individu menjadi tidak konsisten, kata-kata yang keluar dari
mulutnya tidak nyambung, emosinya tidak tertata, tidak mampu membedakan antara
diri dan bukan diri serta menjadi individu yang tidak punya arah dan pasif.
3.
Ciri-ciri
Orang yang Berfungsi Sepenuhnya
Rogers memberikan lima sifat orang yang
berfungsi sepenunhya, yaitu :
1) Keterbukaan
pada Pengalaman
Seseorang
yang tidak terhambat oleh syarat-syarat penghargaan, bebas untuk mengalami
semua perasaan dan sikap. Tak satu pun
yang harus di lawan karena tak satu pun yang mengancam. Jadi, keterbukaan pada
pengalaman adalah lawan dari sikap defensif.
Setiap pendirian dan perasaan yang berasal dari dalam dan dari luar disampaikan
ke sistem saraf organisme tanpa distorsi atau rintangan.
Orang
yang demikian mengetahui segala sesuatu tentang kodratnya; tidak ada segi
kepribadian tertutup. Kepribadian adalah fleksibel, tidak hanya mau menerima
pengalaman-pengalaman yang diberikan oleh kehidupan, tetapi juga dapat
menggunakannya dalam membuka kesempatan-kesempatan persepsi dan ungkapan baru.
Sebaliknya, kepribadian orang yang defensif,
yang beroperasi menurut syarat-syarat penghargaan adalah statis, bersembunyi di
belakang peranan-peranan, tidak dapat menerima atau bahkan mengetahui
pengalaman-pengalaman tertentu.
Orang
yang berfungsi sepenuhnya dapat dikatakan lebih “emosional” dalam pengertian
bahwa dia mengalami banyak emosi yang bersifat positif dan negatif (misalnya,
baik kegembiraan maupun kesusahan) dan mengalami emosi-emosi itu lebih kuat
daripada orang yang defensif.
2) Kehidupan
Eksistensial
Orang
yang berfungsi sepenuhnya, hidup sepenuhnya dalam setiap momen kehidupan.
Setiap pengalaman dirasa segar dan baru. Seperti sebelumnya, belum pernah ada
dalam cara yang persis sama. Maka dari itu, ada kegembiraan karena setiap
pengalaman tersingkap.
Karena
orang yang sehat terbuka kepada semua pengalaman, maka diri atau kepribadian
terus-menerus dipengaruhi atau disegarkan oleh tiap pengalaman. Akan tetapi
orang yang defensif harus mengubah suatu pengalaman baru untuk membuatnya
harmonis dengan diri; dia memiliki suatu struktur diri yang berprasangka dimana
semua pengalaman harus cocok dengannya. Orang yang berfungsi sepenuhnya yang
tidak memiliki diri yang berprasangka atau tegar tidak harus mengontrol atau
memanipulasi pengalaman-pengalaman, sehingga dengan bebas dapat berpartisipasi
di dalamnya.
Rogers
percaya bahwa kualitas dari kehidupan eksistensial ini merupakan segi yang
sangat esensial dari kepribadian yang sehat. Kepribadian terbuka kepada segala
sesuatu yang terjadi pada momen itu dan dia menemukan dalam setiap pengalaman
suatu struktur yang dapat berubah dengan mudah sebagai respons atas pengalaman
momen yang berikutnya.
3) Kepercayaan
Terhadap Organisme Orang Sendiri
Prinsip
ini mungkin paling baik dipahami dengan menunjuk kepada pengalaman Rogers
sendiri. Dia menulis “Apabila suatu aktivitas terasa seakan-akan berharga atau
perlu dilakukan, maka aktivitas itu perlu dilakukan. Dengan kata lain saya
telah belajar bahwa seluruh perasaan organismik saya terhadap suatu situasi
lebih dapat dipercaya daripada pikiran saya”.
Dengan
kata lain, bertingkah laku menurut apa yang dirasa benar, merupakan pedoman
yang sangat dapat diandalkan dalam memutuskan suatu tindakan, lebih dapat
diandalkan daripada faktor-faktor rasional atau intelektual. Orang yang
berfungsi sepenuhnya dapat bertindak menurut impuls-impuls yang timbul seketika
dan intuitif. Dalam tingkah laku yang demikian itu terdapat banyak spontanitas
dan kebebasan, tetapi tidak sama dengan bertindak terburu-buru atau sama sekali
tidak memperhatikan konsekuensi-konsekuensinya.
Karena
seluruh kepribadian mengambil bagian dalam proses membuat keputusan, maka
orang-orang yang sehat percaya akan keputusan mereka, seperti mereka percaya
akan diri mereka sendiri. Sebaliknya orang-orang yang defensif membuat
keputusan-keputusan menurut larangan-larangan yang membimbing tingkah lakunya.
4) Perasaan
Bebas
Rogers
percaya bahwa semakin seseorang sehat secara psikologis, semakin juga ia
mengalami kebebasan untuk memilih dan bertindak. Orang yang sehat dapat memilih
dengan bebas tanpa adanya paksaan-paksaan atau rintangan-rintangan antara
alternatif pikiran dan tindakan, dan juga memiliki perasaan berkuasa secara
pribadi mengenai kehidupan dan percaya bahwa masa depan tergantung pada
dirinya, tidak diatur oleh tingkah laku, keadaan, atau peristiwa-peristiwa masa
lampau. Karena merasa bebas dan berkuasa maka orang yang sehat melihat sangat
banyak pilihan dalam kehidupan dan merasa mampu melakukan apa saja yang mungkin
ingin dilakukannya.
Orang
yang defensif tidak memiliki perasaan-perasaan bebas. Orang ini dapat
memutuskan untuk bertingkah laku dengan cara tertentu, namun tidak dapat
mewujudkan pilihan bebas itu ke dalam tingkah laku yang aktual. Tingkah laku
ditentukan oleh faktor-faktor yang berada di luar kontrol orang itu, termasuk
sikap defensifnya sendiri dan ketidak mampuannya untuk mengalami semua data
yang di perlukan untuk membuat keputusan. Orang serupa itu tidak akan memiliki
perasaan berkuasa atas kehidupan dan tidak akan memiliki perasaan akan
kemungkinan-kemungkinan yang tidak terbatas. Pilihan-pilihan terbatas dan
pandangan terhadap masa depan sempit.
5) Kreativitas
Semua
orang yang berfungsi sepenuhnya sangat kreatif. Orang yang kreatif kearp kali
benar-benar menyesuaikan diri dengan tuntutan-tuntutan dari situasi khusus
apabila konformitas yang demikian itu akan membantu memuaskan kebutuhan merka
dan memungkinkan mereka mengembangkan diri mereka sampai ke tingkat paling
penuh.
Orang
yang defensif, yang kurang merasa bebas, yang tertutup terhadap banyak
pengalaman, dan yang hidup dalam garis-garis pedoman yang telah dikodratkan
adalah tidak kreatif dan tidak spontan.
Rogers
percaya bahwa orang-orang yang berfungsi sepenuhnya lebih mampu menyesuaikan
diri dan bertahan terhadap perubahan-perubahan yang drastis dalam
kondisi-kondisi lingkungan. Mereka memiliki kreativitas dan spontanitas untuk
menanggulangi perubahan-perubahan traumatis seklipun seperti dalam pertempuran
atau bencana-bencana alamiah. Jadi, Rogers melihat orang-orang yang berfungsi
sepenuhnya merupakan “barisan depan yang layak” dalam proses evolusi manusia.
1.
Hierarki
Kebutuhan Manusia
Maslow mengembangkan teori tentang
bagaimana semua motivasi saling berkaitan. Ia menyebut teorinya sebagai “Hierarki
Kebutuhan”. Kebutuhan ini mempunyai
tingkat yang berbeda-beda. Ketika satu tingkat kebutuhan terpenuhi atau
mendominasi, orang tidak lagi mendapat motivasi dari kebutuhan tersebut. Maslow membuat tingkatan kebutuhan manusia
menjadi lima karakteristik,
yaitu :
a) Kebutuhan
fisiologis
Kebutuhan fisiologis adalah kebutuhan
manusia yang paling mendasar untuk mempertahankan hidupnya secara fisik, yaitu
kebutuhan akan makanan, minuman, tempat tinggal, seks, tidur, istirahat, dan
udara. Seseorang yang mengalami kekurangan makanan, harga diri, dan cinta,
pertama-tama akan mencari makanan terlebih dahulu. Bagi orang yang berada dalam
keadaan lapar berat dan membahayakan, tak ada minat lain kecuali makanan. Tidak
diragukan lagi bahwa kebutuhan fisiologis ini adalah kebutuhan yang paling kuat
dan mendesak. Ini berarti bahwa pada diri manusia yang sangat merasa kekurangan
segala-galanya dalam kehidupannya, besar sekali kemungkinan bahwa motivasi yang
paling besar ialah kebutuhan fisiologis dan bukan yang lain-lainnya. Dengan
kata lain, seorang individu yang melarat kehidupannya, mungkin sekali akan
selalu termotivasi oleh kebutuhan-kebutuhan ini.
b) Kebutuhan
akan rasa aman
Setelah kebutuhan dasariah terpuaskan,
muncullah apa yang digambarkan Maslow sebagai kebutuhan akan rasa aman atau
keselamatan. Kebutuhan ini menampilkan diri dalam kategori kebutuhan akan
kemantapan, perlindungan, kebebasan dari rasa takut, cemas dan kekalutan, kebutuhan
akan struktur, ketertiban, hukum, batas-batas, dan sebagainya. Kebutuhan ini
dapat kita amati pada seorang anak. Biasanya seorang anak membutuhkan suatu
dunia atau lingkungan yang dapat diramalkan. Seorang anak menyukai konsistensi
dan kerutinan sampai batas-batas tertentu. Jika hal-hal itu tidak ditemukan
maka ia akan menjadi cemas dan merasa tidak aman. Orang yang merasa tidak aman
memiliki kebutuhan akan keteraturan dan stabilitas serta akan berusaha keras
menghindari hal-hal yang bersifat asing dan tidak diharapkan. Untuk pribadi
yang sehat, kebutuhan rasa aman tidak berlebih-lebihan atau selalu mendesak.
Kebanyakan diantara kita ini tidak menyerah atau sama sekali tunduk kepada
kebutuhan-kebutuhan rasa aman, tetapi dalam pada itu juga kita merasa tidak
puas kalau jaminan dan stabilitas sama sekali tidak ada.
c) Kebutuhan
akan memiliki dan cinta
Setelah terpuaskan kebutuhan akan rasa
aman, maka kebutuhan sosial yang mencakup kebutuhan akan rasa
memiliki-dimiliki, saling percaya, cinta, dan kasih sayang akan menjadi
motivator penting bagi perilaku. Pada tingkat kebutuhan ini, belum pernah sebelumnya, orang akan
sangat merasakan tiadanya seorang sahabat, kekasih, isteri, suami atau
anak-anak. Ia haus akan relasi yang penuh arti dan penuh kasih dengan orang
lain pada umumnya. Ia membutuhkan terutama tempat (peranan) di tengah kelompok
atau lingkungannya dan akan berusaha keras untuk mencapai dan
mempertahankannya. Orang di posisi kebutuhan ini bahkan mungkin telah lupa
bahwa takala masih memuaskan kebutuhan akan makanan, ia pernah meremehkan cinta
sebagai hal yang tidak nyata, tidak perlu, dan tidak penting. Sekarang ia akan
sangat merasakan perihnya rasa kesepian itu, pengucilan sosial, penolakan,
tiadanya keramahan, dan keadaan yang tak menentu.
Maslow percaya bahwa makin lama makin
sulit memuaskan kebutuhan akan memiliki dan cinta kerena mobilitas kita. Begitu sering
kita berganti rumah, tetangga, kota, bahkan partner, sehingga kita tidak dapat berakar.
Kita tidak cukup lama berada disuatu tempat untuk mengembangkan perasaan yang
memiliki. Banyak orang dewasa merasakan kesepian dan terisolasi, meskipun mereka hidup ditengah-tengah orang
banyak.
d) Kebutuhan
akan penghargaan
Maslow membedakan kebutuhan ini menjadi
kebutuhan akan penghargaan secara internal dan eksternal. Yang pertama
(internal) mencakup kebutuhan akan harga diri, kepercayaan diri, kompetensi,
penguasaan, kecukupan, prestasi, ketidaktergantungan, dan kebebasan
(kemerdekaan). Yang kedua (eksternal) menyangkut penghargaan dari orang lain,
prestise, pengakuan, penerimaan, ketenaran, martabat, perhatian, kedudukan,
apresiasi atau nama baik. Orang yang memiliki cukup harga diri akan lebih
percaya diri. Dengan demikian ia akan lebih berpotensi dan produktif.
Sebaliknya harga diri yang kurang akan menyebabkan rasa rendah diri, rasa tidak
berdaya, bahkan rasa putus asa serta perilaku yang neurotik. Kebebasan atau
kemerdekaan pada tingkat kebutuhan ini adalah kebutuhan akan rasa
ketidakterikatan oleh hal-hal yang menghambat perwujudan diri. Kebutuhan ini
tidak bisa ditukar dengan sebungkus nasi goreng atau sejumlah uang karena
kebutuhan akan hal-hal itu telah terpuaskan.
e) Kebutuhan
akan aktualisasi diri
Menurut Maslow, setiap orang harus
berkembang sepenuh kemampuannya. Kebutuhan manusia untuk tumbuh berkembang dan
menggunakan kemampuannya disebut oleh Maslow sebagai aktualisasi diri. Maslow
juga menyebut aktualisasi diri sebagai hasrat untuk makin menjadi diri sepenuh
kemampuan sendiri, menjadi apa menurut kemampuan yang dimiliki. Kebutuhan akan
aktualisasi diri ini biasanya muncul setelah kebutuhan akan cinta dan akan
penghargaan terpuaskan secara memadai. Kebutuhan akan aktualisasi diri ini
merupakan aspek terpenting dalam teori motivasi Maslow. Dewasa ini bahkan
sejumlah pemikir menjadikan kebutuhan ini sebagai titik tolak prioritas untuk
membina manusia berkepribadian unggul. Belakangan ini muncul gagasan tentang
perlunya jembatan antara kemampuan majanerial secara ekonomis dengan kedalaman
spiritual. Manajer yang diharapkan adalah pemimpin yang handal tanpa melupakan
sisi kerohanian. Dalam konteks ini, piramida kebutuhan Maslow yang berangkat
dari titik tolak kebutuhan fisiologis hingga aktualisasi diri diputarbalikkan.
Dengan demikian perilaku organisme yang diharapkan bukanlah perilaku yang rakus
dan terus-menerus mengejar pemuasan kebutuhan, melainkan perilaku yang lebih
suka memahami daripada dipahami, memberi daripada menerima.
Konsep yang mendasar bagi teori maslow
adalah manusia di motivasikan oleh sejumlah kebutuhan dasar yang bersifat sama
untuk seluruh spesies, tidak berubah dan berasal dari sumber genetis atau
naluriah. Kebutuhan-kebutuhan tersebut tidak semata-mata bersifat fisiologis
tetapi juga psikologis. Kebutuhan-kebutuhan itu merupakan inti dari kodrat
manusia, hanya saja manusia lemah dan mudah diselewengkan dan dikuasai oleh
proses belajar, kebiasaan atau tradisi yang keliru.
2.
Kepribadian
Sehat Menurut Maslow
Abraham Maslow mengatakan bahwa
kepribadian yang sehat adalah Individu yang dapat mengaktualisasikan dirinya.
Individu yang sehat adalah individu yang dapat mengaktualisasikan diri dengan
baik dan imbang, yang artinya mengaktualisasikan diri secara optimal. Mereka
dapat kebutuhan untuk memenuhi potensi-potensi yang mereka miliki dan mengetahui
dan memahami dunia sekitar mereka. Syarat untuk dapat mengaktualisasikan diri
sepenuhnya adalah memenuhi hierarki kebutuhan yang diatas.
Meta
Needs
Meta
needs (meta kebutuhan) merupakan keadaan-keadaan pertumbuhan kearah mana pengaktualisasi-pengaktualisasi diri bergerak. Maslow juga menyebut
kebutuhan tersebut B-values, dan B-values adalah tujuan dalam dirinya sendiri
dan bukan alat untuk mencapai tujuan lain, keadaan-keadaan ada dan bukan
berjuang kearah objek tujuan yang sifatnya khusus. Apabila keadaan-keadaan ini
ada sebagai kebutuhan-kebutuhan dan untuk memuaskan atau mencapai keadaan
tersebut gagal, maka akan menyakitkan, sama seperti kegagalan untuk memuaskan
beberapa kebutuhan yang lebih rendah.
Deficiency
Needs
Sedangkan
Deficiency needs, suatu kekurangan
kebutuhan dimana individu tak dapat memenuhi kebutuhannya, kebutuhan yang
timbul karena kekurangan. Untuk memenuhi kebutuhan ini diperlukan bantuan orang
lain. Deficiency needs
ini meliputi: Kebutuhan
jasmaniah, keamanan, memiliki dan mencintai serta harga diri. Dan sifat-sifat
dari deficiency needs adalah
ketiadaannya menimbulkan penyakit, keberadaannya mencegah timbulnya penyakit,
pemulihannya menyembuhkan penyakit, dalam situasi tertentu yang sangat kompleks
dan di mana orang bebas memilih, orang
yang kekurangan kebutuhan akan
mengutamakan pemuasan kebutuhan ini dibandingkan jenis kepuasan yang lain.
Serta kebutuhan ini tidak aktif, lemah, atau secara fungsional tidak terdapat
pada orang yang sehat.
3.
Ciri-ciri
Actualized People
Mengenai self-actualizing person atau
orang yang sehat mentalnya. Maslow
mengemukakanciri-cirinya sebagai berikut :
1) Mempersepsi
kehidupan atau dunianya sebagaimana apa adanya, dan merasa nyaman dalam
menjalaninya.
2) Menerima
dirinya sendiri, orang laindan lingkungannya.
3) Bersikap
spontan, sederhana, alami, bersikap jujr, tidak dibuat-buat dan terbuka.
4) Mempunyai
komitmen atau dedikasi untuk memecahkan masalah di luar dirinya (yang dialami
orang lain).
5) Bersikap
mandiri atau independen.
6) Memiliki
apresiasi yang segar terhadap lingkungan di sekitarnya
7) Mencapai
puncak pengalaman, yaitu suatu keadaan dimana seseorang mengalami kegembiraan
yang luar biasa. Pengalaman ini cenderung lebih bersifat mistik atau keagamaan.
8) Memiliki
minat social, simpati, empati dan altruis.
9) Sangat
senang menjalin hubungan interpersonal (persahabatan atau persaudaraan) dengan
orang lain.
10) Bersikap
demokratis (toleran, tidak rasialis, dan terbuka).
11) Kreatif
(fleksibel, spontan, terbuka dan tidak takut salah).
V.
PENDAPAT
FROMM
1.
Pengertian
Dasar Teori Fromm
Dasar teori Fromm hampir sama dengan
Freud, Ia setuju dengan Freud yang menekankan pentingnya motivasi, tetapi ia
tidak sependapat bahwa motivasi itu pertama-tama bersifat instingtif. Fromm berpendapat bahwa selain manusia terdorong untuk
memuaskan kebutuhan-kebutuhan organik,
manusia juga terdorong menjadi masyhur dan berkuasa, untuk cinta dan untuk
merealisasikan cita-cita religius dan humanistik.
Kebebasan manusia yang semakin luas,
menempatkan manusia merasa semakin kesepian, dengan kata lain kebebasan
menjadikan keadaan yang negatif di mana manusia-manusia melarikan diri.
Manusia selalu berusaha memecahkan
kontradiksi-kontradiksi yang ada padanya. Maksudnya bahwa seorang pribadi
merupakan bagian sekaligus terpisah dari alam; merupakan binatang, dan
sekaligus manusia.
Aspek individu, yakni aspek binatang dan
aspek manusia merupakan kondisi-kondisi dasar eksistensi manusia, yang
berasumsi bahwa, “pemahaman tentang psikhe
manusia harus berdasarkan manusia tentang kebutuhan manusa yang berasal dari
kondisi-kondisi eksistensinya.
Kepribadian orang akan berkembang
menurut kesempatan yang diberikan kepadanya oleh masyarakat tertentu.
Sebagai manusia tidak lepas dari
pasangan tipe karakter nekrofilus dan biofilus.
Nekrofilus adalah orang yang tertarik
pada kematian, sedangkan biofilus
adalah orang yang mencintai kehidupan.
2.
Kepribadian
yang Sehat Menurut Fromm
Fromm memberikan suatu gambaran jelas
tentang kepribadian yang sehat. Orang yang demikian mencintai seutuhnya,
kreatif, memiliki kemampuan-kemampuan pikiran yang sangat berkembang, mengamati
dunia dan diri secara obejektif, memiliki suatu perasaan identitas yang kuat, berhubungan
dengan dan berakar di dunia, subjek atau pelaku dari diri dan takdir, dan bebas
dari ikatan-ikatan sumbang.
Fromm menyebutkan kepribadian yang
sehat: orientasi produktif, yakni suatu konsep yang serupa dengan kepribadian
yang matang dari Allport, dan orang yang mengaktualisasikan diri dari Maslow.
Konsep itu menggambarkan penggunaan yang sangat penuh atau realisasi dari
potensi manusia. Dengan menggunakan kata “orientasi” , Fromm menunjukan kata
itu merupakan suatu sikap umum atau segi pandangan yang meliputi semua segi
kehidupan, respons-respons intelektual, emosional, dan sensoris terhadap
orang-orang, benda-benda, dan peristiwa-peristiwa di dunia dan juga terhadap
diri sendiri.
Empat segi tambahan dalam kepribadian
yang sehat dapat membantu menjelaskan apa yang dimaksudkan Fromm dengan
orientasi produktif. Keempat segi tambahan itu adalah cinta yang produktif,
pikiran yang produktif, kebahagian dan suara hati.
Cinta
yang produktif adalah suatu hubungan manusia yang
bebas dan sederajat dimana rekan-rekan dapat mempertahankan individualitas
mereka. Tercapainya cinta yang produktif merupakan salah satu dalam prestasi-prestasi
kehidupan yang lebih sulit. Kita tidak “jatuh” dalam cinta; kita harus berusaha
sekuat tenaga karena cinta yang produktif menyangkut empat sifat yang menantang
– perhatian, tanggung jawab, respek, dan pengetahuan.
Pikiran
yang produktif
meliputi kecerdasan, pertimbangan, dan objektivitas. Pemikir yang
produktif didorong oleh perhatian yang kuat terhadap objek pikiran. Pemikir
yang produktif dipengaruhi olehnya dan memperhatikannya.
Kebahagian
adalah suatu bagian integral dan hasil kehidupan yang berkenaan dengan
orientasi produktif ;
kebahagian itu menyertai seluruh kegiatan produktif. Fromm menuliskan bahwa
suatu perasaan kebahagian merupakan bukti bagaimana berhasilnya seseorang
“dalam seni kehidupan”. Kebahagian merupakan prestasi kehidupan yang paling
luhur.
Suara
hati
memiliki dua tipe, yakni suara hati otoriter dan suara hati humanisti. Suara
hati otoriter adalah penguasa yang berasal dari luar yang di internalisasikan,
yang memimpin tingkah laku orang itu. Sedangkan suara hati humanistis ialah
suara dari dalam diri dan bukan juga dari suatu perantara dari luar diri.
Pendoman kepribadian sehat untuk tingkah laku bersifat internal dan individual. Orang bertingkah laku
sesuai dengan apa yang cocok untuk berfungsi sepenuhnya dan menyikapi seluruh
kepribadian, tingkah laku-tingkah laku yang menghasilkan seluruh persetujuan
dan kebahagian dari dalam. Kesehatan jiwa dalam pandangan Fromm di tetapkan
oleh masyarakat, karena kodrat struktur sosial membantu atau menghalangi
kesehatan psikologis. Apabila masyarakat-masyarakat yang sakit, maka
satu-satunya cara untuk mencapai orientasi produktif ialah dengan hidup dalam
suatu masyarakat yang waras dan sehat, yaitu masyarakat yang memajukan
produktivitas.
3.
Ciri-ciri
Kepribadian Sehat
Menurut
Fromm, orang yang berkepribadian sehat memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1) Mampu
mengembangkan hidupnya sebagai makhluk sosial di dalam masyarakat.
2) Mampu
mencintai dan dicintai.
3) Mampu
mempercayai dan dipercayai tanpa memanipulasi kepercayaan itu.
4) Mampu
hidup bersolidaritas dengan orang lain tanpa syarat.
5) Mampu
menjaga jarak antar dirinya dengan masyarakat tanpa merusaknya.
6) Memiliki
watak sosial yang produktif.
7) Kebutuhan
akan keberhubungan kebutuhan ini adalah secara spesifik aktif dan produktif
mencintai orang lain.
8) Kebutuhan
akan trandensi mengungguli alam menjadi mahluk yang kreatif Kebutuhan akan
kemantapan ingin meiliki rasa bersahaja pada dunia dan orang lain supaya dapat
beradaptasi di dunia.
9) Kebutuhan
akan idenditas brusaha untuk memiliki rasa idenditas personal dan keunikan guna
menciptakan rasa yang terlepas dari dunia.
10) Kebutuhan
akan kerangka orientasi untukmencptakan rasa yang terlepas dari dunia. Hal
kebutuhan tersebut adalah sifat alamiah dari manusia menurut fromm dan ini
berubah saat evolusi namun manivestasi dari kebutuhan ini adalah akan
memunculkan potensi-potensi batiniah di tentukan oleh aturan-aturan sosial di
mana ia hidup dan kepribadian seseorang berkembang menurut
kesempatan-kesempatan yang di berikan kepadanya oleh masyarakat tertentu.
DAFTAR PUSTAKA
Alwisol. (2009). Psikologi
Kepribadian. Malang : UMM Press.
Basuki, Heru. (2008). Psikologi
Umum. Jakarta : Universitas Gunadarma.
Schultz, Duane. (1991). Psikologi Pertumbuhan : Model-model
Kepribadian Sehat. Yogyakarta : PT Kanisius.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar