MAKALAH
KESEHATAN MENTAL
TEORI
KEPRIBADIAN SEHAT
TUGAS
IV
NAMA :
JESSICA PHOIBE
NPM : 15514649
KELAS :
2PA19
FAKULTAS
PSIKOLOGI
UNIVERSITAS
GUNADARMA
ATA
2015/2016
I.
Hubungan
Interpersonal
1.
Model
Pertukaran Sosial dan Analisis Transaksional
Analisis
transaksional adalah sistem terapi yang berlandaskan teori kepribadian yang
mengunakan tiga pola tingkah laku atau perwakilan ego yang terpisah, yaitu
orang tua, orang dewasa dan anak. Ego orang tua adalah bagian kepribadian yang
merupakan introyeksi dari orang tua atau dari subsitut orang tua. Jika ego orang
tua itu dialami kembali oleh kita, maka apa yang dibayangkan oleh kita adalah
perasaan-perasaan orang tua kita dalam suatu situasi, atau kita merasa dan
bertindak terhadap orang lain dengan cara yang sama dengan perasaan dan
tindakan orang tua kita terhadap kita. Ego orang tua berisi perintah-perintah “
harus” dan “ semestinya” .
Ego
orang dewasa adalah pengolah data dan informasi yang merupakan bagian objektif
dari kepribadian, juga menjadi bagian dari kepribadian yang mengetahui apa yang
sedang terjadi. Dia tidak emosional dan tidak menghakimi, tetapi menangani
fakta-fakta dan kenyataan eksternal. Berdasarkan informasi yang tersedia, ego
orang dewasa menghasilkan kepecahan yang paling baik bagi masalah tertentu.
Ego
anak adalah berisi perasaan-perasaan, dorongan-dorongan, dan tindakan-tindakan
spontan. “anak” yang ada dalam diri kita bisa berupa “anak alamiah”, “profesor
cilik”, atau berupa “ anak yang disesuaikan”. Anak alamiah adalah anak yang
impulsif, tak terlatih, spontan, dan ekspresif. Preofesor cilik adalah kearifan
yang asli dari seseorang anak. Dia memanipulatif dan kreatif. Dia adalah bagian
dari ego anak yang intuitif, bagian yang bermain diatas firasat-firasat.
Anak-anak yang disesuaikan menunjukkan suatu modifikasi dari anak alamiah. Modifikasi-modifikasi
dihasilkan oleh pengalaman-pengalam traumatik, tuntutan latihan dan ketepatan
tentang bagaimana caranya memperoleh belaian.
2.
Pembentukan
Kesan dan Ketertarikan Interpersonal dalam Memulai hubungan
Penyebab
ketertarikan, dimulai dari awal rasa suka hingga cinta berkembang dalam
hubungan yang erat meliputi :
a. Aspek
Kedekatan
b. Kesamaan
c. Kesukaan
Timbal Balik
d. Ketertarikan
Fisik dan Kesukaan
Ketertarikan
interpersonal adalah kecenderungan untuk mengevaluasi individu lain dengan
penilaian positif secara konsisten ada beberapa faktor:
1) DAYA
TARIK FISIK, pada sebagian orang ini faktor yang tidak adiluntuk dijadikan
kriteria bagi seseorang untuk disukai orang lain.Daya tarik fisik memang
berpengaruh menurut penelitian.tetapi kekuatan daya tarik fisik akan melemah
jika yang dicari adalah hubungan jangka panjang.
2) KEDEKATAN,
dekat disini dekat secara fisik atau lingkungan.
Hal yang membuat kedekatan ini dapat
menjadi ketertarikan karena:
a. Semakin
dekat tempat, kemungkinan bertemu semakin sering,
b. Informasi
tentang orang-orang yang berada di sekeliling anda dapat lebih mudah didapat,
c. Kemungkinan
untuk berinteraksi lebih besar.
Jika anda salah satu yang percaya bahwa
ada seseorang yang menunggu anda di luar sana, bisa saja orang itu ada di dekat
anda.
3) MERASA
DEKAT, Salah satu alasan mengapa kedekatan dapat menciptakan rasa suka karena
meningkatkan perasaan familiar. Efek perasaan familiar menimbulkan ketertarikan
adalah fenomena yang sangat umum.
4) KEMIRIPAN,
bahwa orang yang berlawanan menimbulkan daya tarik. Salah satu alasan mengapa
kemiripan dapat menghasilkan rasa suka karena orang lebih menghargai opini dan
pilihan mereka sendiri dan senang bersama orang yang mengabsahkan pilihannya.
Walaupun demikian, kepribadian yang berlawanan dapat juga menarik jika saling
melengkapi (komplementer) terutama dalam hal dominasi (Markey, 2007), orang
yang dominan akan lebih menyukai pasangan yang seringnya mengalah dan
sebaliknya.
5) SOCIAL
REWARD, Seseorang cenderung mengulangi tingkah lakunya jika mereka mendapatkan
penghargaan atau keuntungan.
3.
Model
Peran, Konflik dan Adequacy Peran Serta Autentisitas dalam Hubungan Peran
v Model Peran
Menurut Dr. E. Mulyasa,
M.Pd. (2004) terdapat empat asumsi yang mendasari pembelajaran bermain peran
untuk mengembangkan perilaku dan nilai-nilai social, yang kedudukannya sejajar
dengan model-model mengajar lainnya. Keempat asumsi tersebut sebagai berikut:
1) Secara
implicit bermain peran mendukung sustau situasi belajar berdasarkan pengalaman
dengan menitikberatkan isi pelajaran pada situasi ‘’di sini pada saat ini’’.
Model ini percaya bahwa sekelompok peserta didik dimungkinkan untuk menciptakan
analogy mengenai situasi kehidupan nyata. Tewrhadap analogy yang diwujudkan
dalam bermain peran, para peserta didik dapat menampilkan respons emosional
sambil belajar dari respons orang lain.
2) Kedua,
bermain peran memungkinkan para peserta didik untuk mengungkapkan perasaannya
yang tidak dapat dikenal tanpa bercermin pada orang lain. Mengungkapkan
perasaan untuk mengurangi beban emosional merupakan tujuan utama dari
psikodrama (jenis bermain peran yang lebih menekankan pada penyembuhan). Namun
demikian, terdapat perbedaan penekanan antara bermain peran dalam konteks
pembelajaran dengan psikodrama. Bermain peran dalam konteks pembelajaran
memandang bahwa diskusi setelah pemeranan dan pemeranan itu sendiri merupakan
kegiatan utama dan integral dari pembelajaran; sedangkan dalam psikodrama, pemeranan
dan keterlibatan emosional pengamat itulah yang paling utama. Perbedaan
lainnya, dalam psikodrama bobot emosional lebih ditonjolkan daripada bobot
intelektual, sedangkan pada bermain peran peran keduanya memegang peranan yang
sangat penting dalam pembelajaran.
3) Model
bermain peran berasumsi bahwa emosi dan ide-ide dapat diangkat ke taraf sadar
untuk kemudian ditingkatkan melalui proses kelompok. Pemecahan tidak selalu
datang dari orang tertentu, tetapi bisa saja muncul dari reaksi pengamat
terhadap masalah yang sedang diperankan. Denagn demikian, para peserta didik
dapat belajar dari pengalaman orang lain tentang cara memecahkan masalah yang
pada gilirannya dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan dirinya secara optimal.
Dengan demikian, para peserta didik dapat belajar dari pengalaman orang lain
tentang cara memecahkan masalah yang pada gilirannya dapat dimanfaatkan untuk
mengembangkan dirinya secara optimal. Oleh sebab itu, model mengajar ini
berusaha mengurangi peran guru yang teralu mendominasi pembelajaran dalam
pendekatan tradisional. Model bermain peran mendorong peserta didik untuk turut
aktif dalam pemecahan masalah sambil menyimak secara seksama bagaimana orang
lain berbicara mengenai masalah yang sedang dihadapi.
4) Model
bermain peran berasumsi bahwa proses psikologis yang tersembunyi, berupa sikap,
nilai, perasaan dan system keyakinan, dapat diangkat ke taraf sadar melalui
kombinasi pemeranan secara spontan. Dengan demikian, para pserta didik dapat
menguji sikap dan nilainya yang sesuai dengan orang lain, apakah sikap dan
nilai yang dimilikinya perlu dipertahankan atau diubah. Tanpa bantuan orang
lain, para peserta didik sulit untuk menilai sikap dan nilai yang dimilikinya
v Konflik
Merupakan suatu gejala
yang umumnya muncul sebagai akibat dari interaksi manusia dalam hidup
bermasyarakat. Konflik akan timbul ketika terjadi persaingan baik individu
maupun kelompok. Konflik juga bisa dipicu karena adanya perbedaan pendapat
antara komponen-komponen yang ada di dalam masyarakat membuatnya saling mempertahankan
ego dan memicu timbulnya pertentangan. Bukan hanya di masyarakat konflik juga
bisa terjadi di satuan kelompok masyarakat terkecil, keluarga, seperti konflik
antar saudara atau suami-istri.
Berikut ini beberapa pengertian konflik
atau definisi konflik yang dikeluarkan oleh beberapa ahli:
·
Berstein (1965), konflik merupakan suatu
pertentangan, perbedaan yang tidak dapat dicegah.
·
Dr. Robert M.Z. Lawang, menurutnya
konflik adalah perjuangan untuk memperoleh nilai, status, kekuasaan, dimana
tujuan dari mereka yang berkonflik, tidak hanya memperoleh keuntungan, tetapi
juga untuk menundukkan saingannya.
·
Drs. Ariyono Suyono, menurutnya
pengertian konflik adalah proses atau keadaan dimana ada 2 pihak yang berusaha
menggagalkan tercapainya tujuan masing-masing disebabkan karena adanya
perbedaan pendapat, nilai-nilai ataupun tuntutan dari masing-masing pihak.
·
Soerjono Soekanto, menurutnya konflik
adalah proses sosial dimana orang atau kelompok berusaha untuk memenuhi
tujuannya dengan jalan menentang pihak lain yang disertai ancaman dan
kekerasan.
v Adequancy Peran dan Serta
Autentisitas dalam Hubungan Peran
Kecukupan
perilaku yang diharapkan pada seseorang sesuai dengan posisi sosial yang
diberikan baik secara formal maupun secara informal. Peran didasarkan pada
preskripsi ( ketentuan ) dan harapan peran yang menerangkan apa yang
individu-individu harus lakukan dalam suatu situasi tertentu agar dapat
memenuhi harapan-harapan mereka sendiri atau harapan orang lain menyangkut
peran-peran tersebut.
4.
Intimasi
dan Hubungan Pribadi
Kebutuhan
intimacy merupakan suatu kebutuhan akan hubungan dengan orang lain dan
merupakan kebutuhan terdalam pada diri setiap manusia untuk mengetahui
seseorang secara lebih dekat, seperti merasa dihargai, diperhatikan, saling
bertukar pendapat,keinginan untuk selalu berbagi dan menerima serta perasaan
saling memiliki sehingga terjalin
keterikatan yang semakin kuat dan erat.
Sternberg
(dalam Papalia, 2004) intimacy adalah komponen emosi dari cinta yang meliputi
perasaan dengan orang lain, seperti perasaan hangat, sharing, dan kedekatan
emosi serta mengandung pengertian sebagai elemen afeksi yang mendorong individu
untuk selalu melakukan kedekatan emosional dengan orang yang dicintainya.
Menurut Baur and Crooks (2008) Intimacyjuga merupakan salah satu upaya untuk
membantu orang lain, keterbukaan dalam sharing, bertukar pikiran, dan merasakan
sedih ataupun senangnya dengan seseorang yang dicintainya. Bentuk-bentuk intim
yaitu dari persaudaraan, persahabatan dan percintaan. Pertama persaudaraan
yaitu hubungan intim yang terhadap
saudara didasarkan adanya hubungan darah. Pada persaudaraan itu di dalamnya
terkandung keakraban. Kehidupan bersama tersebut memungkinkan segala hubungan
terjadi, misalanya keakraban, kedekatan, dan interaksi.
Baumgardner
dan Clothers dalam Hanurawan, (2010). Keintiman adalah suatu konsep yang
mengacu pada perasaan kedekatan atau perasaan keterhubungan diantara dua orang.
Perasan-perasaan itu seperti pada fenomena seseorang memikirkan kesejahteraan
orang lain, pemahaman timbal balik dengan orang lain, dan kemampuan berbagi
(sharring) dengan orang lain. Dalam keintiman, orang yang melakukan interaksi
sosial pada suatu hubungan cinta menjadi saling memahami diantara kedua belah
pihak dan terdapat fenomena kehangatan afeksi diantara kedua belah pihak.
Berdasarkan
teori di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan
intimasi adalah suatu hubungan timbal balik antar individu, yang terwujud
dengan saling berbagi perasaan dan pikiran yang mendalam, saling membuka diri
serta menerima dan menghargai satu sama lain.
II.
Cinta
dan Perkawinan
1.
Membahas
suatu kasus tentang perkawinan yang sehat dan bagaimana peran cinta terhadap
kesehatan mental
Kasus tentang Perkawinan yang Sehat
Budi
iswanto dan Mardini di Desa Sidoarum Kecamatan Godaean Sleman, DIY di dalam
keluaraganya menerima dan melakukan komunikasi terbuka atau pengungkapan
perasaan dengan pasangan secara sopan, dan apa adanya, pada keluarga ini
memiliki situasi dan kondisi keluarga yang di dalamnya tercipta kehidupan
beragama, saling menghargai, pengertian, terbuka, dan saling menjaga satu sama
lain serta adanya saling percaya. Karena dalam hidup berumah tangga tidak bisa
lepas dari komunikasi sehingga komunikasi terbuka menjadi salah satu usaha
untuk mewujudkan keluarga yang sehat dan harmonis.
Berdasarkan
kasus diatas bahwa dalam bentuk perkawinan yang sehat harus mempunyai
komunikasi terbuka antara pasangannya dan memiliki kepercyaan antara
pasangannya. Dalam perkawinan sehat harus terdapat cinta, jika tidak cinta satu
sama lain maka dalam berumah tangga tidak akan bertahan lama. Lalu seiman, jika
dalam perkawinan harus seiman karena, merupakan salah satu kunci kebahagian
rumah tangga Cinta saja tentu belum cukup untuk menciptakan perkawinan yang
bahagia. Prinsip memilih suami yang seiman juga merupakan salah satu kunci
dalam mencapai kebahagiaan rumah tangga. Memang, banyak pula pasangan
suami-istri beda agama yang juga bisa bahagia menjalani perkawinannya.
Namun,
sebaiknya jangan anggap enteng soal satu ini. Bisa-bisa, Anda dan suami
akhirnya jalan sendiri-sendiri, sesuai iman masing-masing. Belum lagi kehadiran
anak. Persoalan agama apa yang akan dianut anak seringkali juga memicu
perdebatan yang panjang. Lalu saling percaya Tanpa rasa saling percaya antara
pasangan suami-istri, perkawinan tentu tak akan berjalan mulus. Rasa saling
percaya akan mengantarkan Anda pada perasaan aman dan nyaman. Kuncinya, jangan
sia-siakan kepercayaan yang diberikan suami Anda. Istri tak perlu mencurigai
suami, dan sebaliknya, suami juga tak perlu mencurigai. Kemudian Ekonomi,
Hampir sebagian besar waktu dalam keluarga dewasa ini, khususnya pasangan
suami-istri muda perkotaan, adalah untuk mencari nafkah.
Artinya,
tak bisa dipungkiri bahwa faktor ekonomi tak bisa dianggap remeh. Bayangkan,
apa yang bakal terjadi seandainya rumah tangga tak didukung oleh topangan
ekonomi yang memadai. Mengatur ekonomi secara benar juga akan memberikan
perasaan aman dan bahagia. istri. Membangun rasa saling percaya juga merupakan
perwujudan cinta yang dewasa. Selanjutnya, Menjaga romantisme, terkadang,
pasangan suami-istri yang sudah cukup lama membangun mahligai rumah tangga tak
lagi peduli pada soal yang satu ini. Tak ada kata-kata pujian, makan malam
bersama, bahkan perhatian pun seperti barang mahal. Padahal, menjaga romantisme
dibutuhkan oleh pasangan suami-istri sampai kapan pun, tak cuma ketika mereka
berpacaran. Sekedar memberikan bunga, mencium pipi, menggandeng tangan, saling
memuji, atau berjalan-jalan menyusuri tempat-tempat romantis akan kembali
memercikkan rasa cinta kepada pasangan hidup Anda.
Dan
terakhir Komunikasi, Komunikasi juga merupakan salah satu pilar langgengnya
hubungan suami-istri. Hilangnya komunikasi berarti hilang pula salah satu pilar
rumah tanga. Bagaimana mungkin hubungan Anda dengan suami akan mulus jika
menyapa pun Anda enggan. Jika rumah tangga adalah sebuah mobil, maka komunikasi
adalah rodanya. Tanpanya, tak mungkin rasanya rumah tangga berjalan.
Peran Cinta Terhadap Kesehatan
Mental
Perkawinan
yang sehat dan Bagaimana Peran Cinta terhadap Kesehatan Mental?
Perkawinan
biasanya dimensi cinta yang dihasilakan dari cinta yang berdimensi komitmen
atau keputusan. Pasangan memiliki hasrat untuk membagi dirinya dalam hubungan
yang berlanjut dan hangat. Perkawinan adalah sebuah komitmen serius antar
pasangan dan biasanya dengan mengadakan pesta pernikahan, berarti secara sosial
diakui bahwa saat itu pasangan suami istri (Duvall san Miller, 1985)
menjelaskan bahwa perkawinan adalah hubungan pria dan wanita yang diakui secara
social, yang ditunjukkan untuk meegalkan hubungan seksua, mengintimasi
memebesarkan anak, dan membangun pembagian peran di antara sesame pasangan.
Faktor-faktor
yang mendukung kepuasan perkawinan dalam peran cinta adalah adanya komunikasi
yang terbuka, ekspresi perasaan secara terbuka, saling percaya, tidak adanya
dominasi pasangan, hubungan seksual yang memuaskan, kehidupan sosial, tempat
tinggal, penghasilan cukup, anak, keyakinan beragama dan hubungan mertua/ipar
(Latifah, 2005).
Menurut
Sternberg, cinta adalah sebuah kisah,
kisah yang ditulis oleh setiap orang. Kisah tersebut merefleksikan
kepribadian, minat dan perasaan seseorang terhadap suatu hubungan. Baron dan
byrne (2004) mendefinisikan cinta sebagai sebuah kombinasi emosi,kognisi,dan
perilaku yang ada dalam sebuah hubungan intim. Cinta merupakan kekuatan yang
mampu menarik dua orang dalam satu ikatan yang tidak terpisahkan, yang
dinamakan perkawinan.
Pada
masa pacaran dan di awal perkawinan, biasanya yang dominan adalah passionate
love yang menggebu-gebu dan diwarnai oleh sikap posesif terhadap pasangan,
sedangkan companiate love berkembang secara perlahan-lahan dan ada pada
perkawinan yang bahagia dimana masing-masing pihak merasa pasangannya adalah
teman yang sangat dibutuhkan keberadaannya, baik secara fisik maupun secara
psikologis, untuk saling mengisi dalam kehidupan bersama.
III.
Pekerjaan
dan Waktu Luang
1.
Menceritakan
karakteristik pribadi kalian dan karakteristik pekerjaan dalam memilih
pekerjaan yang cocok untuk kalian.
` Jika nanti
saya mencari pekerjaan, saya ingin sekali bekerja dalam bidang kesehatan karena
bagi saya orang yang bekerja dalam bidang kesehatan selain untuk mencari uang
namun juga memiliki kepuasan dalam membantu orang lain. Saya senang
mendengarkan cerita teman saya walaupun terkadang saya tidak memberikan mereka
pendapat, namun dengan kita mendengarkan secara tulus maka kita juga membantu
sedikit beban dalam diri mereka. Maka dari itu saya ingin sekali bekerja
sebagai Psikolog. Saya juga memiliki mimpi untuk bisa membangun rumah sakit,
kenapa harus rumah sakit? Saya selalu merasa kasihan jika ada orang yang sakit
namun harus terkendala biaya dan tidak bisa berobat, maka dari itu saya ingin
sekali memiliki rumah sakit untuk bisa membantu mereka berobat dengan baik.
Selain itu juga bisa membantu mengurangi biaya jika ada keluarga saya yang
sakit. Namun saya juga berpikir jika memang apa yang saya dapat nanti apapun
itu pekerjaannya harus saya jalani dengan baik asalkan tidak bernaung dengan
angka-angka, karena saya tidak terlalu menyukai hitung-hitungan dan mudah
merasa bosan jika harus menghitung terus menerus.
2.
Menceritakan
bagaimana kalian
menggunakan waktu luang secara positif
Saat sedang tidak memiliki kegiatan atau aktivitas
seperti kuliah, saya lebih banyak menggunakan waktu untuk membaca novel,
bermain game, mendengarkan musik atau bermain handphone. Terkadang saya juga
merasa bosan karena hanya melakukan kegiatan “itu-itu” saja. Jika saya sudah
merasa bosan untuk bermain handphone, maka saya mencari referensi makanan yang
mudah untuk dibuat sehingga saya bisa mencobanya dirumah. Karena kegiatan memasak
dan makan adalah kegiatan yang menyenangkan. Setelah itu, terkadang saya juga
menggunakan waktu luang untuk mengerjakan tugas. Tidak banyak kegiatan yang
saya lakukan pada waktu luang. Jika memang pada hari libur harus mengerjakan
tugas kelompok, maka waktu luang saya gunakan untuk kerja kelompok. Terkadang
saya juga pergi ke tempat les matematika anak SD untuk membantu mengajar anak
SD belajar matematika, namun kegiatan tersebut sudah tidak selalu sering saya
lakukan kembali karena waktu yang tidak memadai. Demikianlah kegiatan yang saya
lakukan jika memiliki waktu luang, walaupun kegiatan saya terdengar membosankan
atau hanya “itu-itu” saja dan sangat tidak menarik untuk diikuti, namun jika
kita melakukannya dengan senang hati dan masih dalam batasan wajar maka bagi
saya kegiatan tersebut masih asyik untuk dilakukan.
Daftar Pustaka :
Nasution, Noehi dkk. 1992. Psikologi Pendidikan. Jakarta:
Depdikbud
Wargito, Bimo. 1989. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta: Andy
Yogyakarta
Aronson ,Elliot .(2005). Social Psychology .Upper saddle
river : person prentice hall
Tidak ada komentar:
Posting Komentar