MAKALAH
KESEHATAN
MENTAL
TUGAS
1
NAMA : JESSICA PHOIBE
NPM : 15514649
KELAS : 2PA 19
FAKULTAS
PSIKOLOGI
UNIVERSITAS
GUNADARMA
ATA
2015/2016
A. KONSEP
SEHAT
I.
KONSEP
SEHAT BERDASARKAN DIMENSI EMOSI, INTELEKTUAL, SOSIAL, FISIK, SPIRITUAL
Konsep sehat
pada masyarakat awam lebih merujuk kepada keadaan fisik jasmaniah seseorang
yaitu sehat atau sakit. Akan tetapi sesungguhnya konsep sehat tidak hanya dari
segi fisik saja, tedapat dimensi-dimensi lain seperti emosi, intelektual,
sosial dan spiritual. Secara umum, pengertian kesehatan yaitu suatu kondisi
atau keadaan secara umum seseorang dari segi semua aspek. Dalam pengertian ini
dimaksudkan bahwa kesehatan merupakan tingkat keefisienan dari fungsional
dengan atau tanpa metabolisme dari suatu organisme dan juga termasuk manusia.
Konsep sehat
menurut Parkins (1938) adalah suatu keadaan seimbang yang dinamis antara bentuk
dan fungsi tubuh dan berbagai faktor yang berusaha mempengaruhinya. Dan menurut
White (1977), sehat adalah suatu keadaan di mana seseorang pada waktu diperiksa
tidak mempunyai keluhan ataupun tidak terdapat tanda-tanda suatu penyakit dan
kelainan. WHO pun mengembangkan defenisi tentang sehat. Pada sebuah publikasi
WHO tahun 1957, konsep sehat didefenisikan sebagai suatu keadaan dan kualitas
dari organ tubuh yang berfungsi secara wajar dengan segala faktor keturunan dan
lingkungan yang dimiliki. Sementara konsep WHO tahun 1974, menyebutkan Sehat
adalah keadaan sempurna dari fisik, mental, sosial, tidak hanya bebas dari
penyakit atau kelemahan.
Konsep sehat
itu sendiri memang lebih banyak ditemui konsep tentang sakit, ini membuat pemahaman
tentang sehat mengalami kerancuan dalam batasan kesehatan sebagai pegangan
suatu derajat yang harus dicapai seseorang. Ada perbedaan antara model
kesehatan Barat dan Kesehatan Timur. Barat lebih memandang kesehatan bersifat
dualistik yaitu mengibaratkan manusia sebagai mesin yang sangat dipengaruhi
oleh dominasi medis. Sedangkan Timur lebih bersifat holistik, yaitu melihat
sehat lebih secara menyeluruh saling berkaitan sehingga berpengaruh pada cara
penanganan terhadap penyakit.
Sehat sendiri
dapat dikatakan sebagai suatu kondisi normal, nyaman dan bahagia baik secara
Fisik, Emosi (EQ), Iintelektual (IQ), Spritual (SQ) dan Sosial. Serta dapat
melakukan aktivitas sehari-hari tanpa terganggu. Sedangkan sakit itu sendiri
diartikan sebagai keadaan fisik tubuh yang terganggu yang menyebabkan perasaan
tidak nyaman dan tidak mengenakan. Dari pernyataan diatas sudah bisa didapat
tentang dimensi sehat, berikut pemahamannya :
1.
Dimensi
Emosi
Emosi
adalah reaksi kompleks yang mengandung tingkatan aktivitas yang tinggi, dan
diikuti perubahan dalam kejasmanian serta berkaitan dengan perasaan yang kuat.
Sehat secara emosional adalah kemampuan seseorang untuk mengekspresikan
emosinya seperti marah, senang, sedih, takut, benci, bosan. Orang yang sehat
secara emosi dapat terlihat dari kestabilan dan kemampuannya mengontrol dan
mengekspresikan perasaan (marah, sedih atau senang) secara tidak berlebihan.
2.
Dimensi
Intelektual
Intelektual
berhubungan dengan kecerdasan dalam berfikir, dimana kita mampu untuk berfikir
dalam mengolah informasi dengan baik dan memecahkan masalah yang dihadapi.
Dikatakan sehat secara intelektual yaitu, jika seseorang memiliki kecerdasan
dalam kategori yang baik mampu melihat realitas. Memilki nalar yang baik dalam
memecahkan masalah atau mengambil keputusan. Pikiran sehat tercermin dari cara
berpikir atau jalan pikiran.
3.
Dimensi
Sosial
Sehat
secara sosial adalah sehat dalam bersosialisasi dengan masyarakat dan lingkungan
sekitar tanpa membedakan bedakan ras, agama, suku, status sosial sehingga dapat
hidup bersama dengan damai. Dalam arti yang lebih hakiki, kesejahteraan sosial
adalah suasana kehidupan berupa perasaan aman damai dan sejahtera, cukup
pangan, sandang dan papan. Dalam kehidupan masyarakat yang sejahtera,
masyarakat hidup tertib dan selalu menghargai kepentingan orang lain serta
masyarakat umum.
4.
Dimensi
Fisik
Dimensi
Fisik merupakan dimensi yang dapat ditelaah secara langsung atau memiliki
dimensi yang paling nyata. Kesehatan fisik dapat dilihat dari kemampuan
mekanistik dari tubuh. Kesehatan fisik terwujud apabila sesorang tidak merasa
dan mengeluh sakit atau tidak adanya keluhan dan memang secara objektif tidak
tampak sakit. Sehat jasmani merupakan komponen penting dalam arti sehat
seutuhnya, berupa sosok manusia yang berpenampilan kulit bersih, mata bersinar,
rambut tersisir rapi, berpakaian rapi, berotot, tidak gemuk, nafas tidak bau, selera
makan baik, tidur nyenyak, gesit dan seluruh fungsi fisiologi tubuh berjalan normal.
Diakatakan sehat bila secara fisiologis (fisik) terlihat normal tidak cacat,
tidak mudah sakit, tidak kekurangan sesuatu apapun.
5.
Dimensi
Spiritual
Spiritual
merupakan komponen tambahan pada definisi sehat oleh WHO dan memiliki arti
penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Setiap individu perlu mendapat
pendidikan formal maupun informal, kesempatan untuk berlibur, mendengar alunan
lagu dan musik, siraman rohani seperti ceramah agama dan lainnya agar terjadi
keseimbangan jiwa yang dinamis dan tidak monoton. Spiritual sehat tercermin
dari cara seseorang dalam mengekspresikan rasa syukur, pujian, kepercayaan dan
sebagainya terhadap sesuatu di luar alam fana ini, yakni Tuhan Yang Maha Kuasa
misalnya dilihat dari praktik keagamaan seseorang. Dengan perkataan lain, sehat
spiritual adalah keadaan dimana seseorang menjalankan ibadah dan semua
aturan-aturan agama yang dianutnya. Dan juga orang yang sehat secara spiritual
adalah mereka yang memiliki suatu kondisi ketenangan jiwa dengan id mereka.
Secara rohani dianggap sehat karena pikirannya jernih tidak melakukan atau
bertindak hal-hal yang diluar batas kewajaran sehingga bisa berpikir rasional.
II.
SEJARAH
PERKEMBANGAN KESEHATAN MENTAL
Sejarah kesehatan
mental merupakan suatu cerminan pemahaman masyarakat tentang gangguan mental
dan tindakan yang diberikan. Ada beberapa pandangan masyarakat terhadap
gangguan mental di dunia barat :
1.
Akibat
kekuatan supranatural.
2.
Dirasuki
oleh roh/setan.
3.
Dianggap
kriminal karena memiliki derajat kebinatangan yang besar.
4.
Dianggap
memiliki cara berpikir irrasional.
5.
Dianggap
sakit.
6.
Merupaka
reaksi terhadap tekanan/stress maladaptif.
7.
Melarikan
diri dari tanggung jawab.
Ø
ZAMAN
PRASEJARAH
Ada spekulasi yang dapat diterima bahwa beberapa gejala
penyakit mental dewasa ini sangat mirip dengan yang dijumpai pada zaman dahulu.
Gejala-gejala penyakit mental zaman dahulu dan sekarang mungkin berhubungan
sama halnya kita sendiri juga berhubungan dengan para nenek moyang kita.
Penyebab-penyebab penyakit mental zaman dahulu dapat juga dianggap berhubungan
dengan penyakit mental zaman kita.
Pada zamannya, manusia purba sering mengalami gangguan-gangguan
baik mental maupun fisik seperti infeksi arthritis, penyakit pernapasan dan
usus. Tetapi penyakit mental pada saat itu benar-benar ditangani dengan cara
pandang mereka adalah merawatnya sama
seperti penyakit fisik, karena mereka berfikir bahwa mental dan fisik
disebabkan oleh penyebab yang sama. Baginya gigi yang sakit dan
seorang yang gila disebabkan oleh penyebab yang sama , yakni roh-roh jahat,
halilintar atau mantera-mantera musuh. Jadi tindakan perawatan yang diberikan
untuk penyakit baik mental maupun fisik adalah seperti menggosok, menjilat,
menghisap, memotong dan membalut. Atau dengan cara lain yang terpikirkan oleh
kawan-kawannya, pemimpin-pemimpinnya, atau ia sendiri seperti menggunakan
salep, mantera, obat keras dan sihir. Tetapi masih diperlakukan secara
manusiawi.
Ø
PERADABAN-PERADABAN
AWAL
Dalam peradaban yang dikenal di Mesir, Mesopotamia ,
India, Cina, dan lainnya sepanjang zaman kuno (dari 5000 SM sampai 500 tahun
M), penyakit mental mulai menjadi hal umum. Di Babilonia dan Mesopotamia,
penyakit mental dihubungkan dengan roh atau setan dan perawatannya dilakukan
dengan upacara-upacara agama dan magis agar setan keluar dari tubuh si pasien.
Sedangkan di Mesir, ilmu kedokteran agak lebih maju dan rasional. Orang-orang mesir memiliki
sekolah kedokteran di Kuil Imhotep. Contohnya
seperti yang otak digambarkan untuk pertama kalinya dan diketahui juga
peranannya dalam proses mental dan disana juga dikembangkan terapi untuk pasien
berupa rekreasi dan pekerjaan, serta diterapkan juga psikoterapi untuk
mengobati penyakit mental.
Sedangkan di Yahudi, penyakit mental diartikan sebagai
suatu hukuman dari Tuhan dan hanya diobati dengan bertaubat. Tapi perhatian
orang Yahudi juga memperhatikannya dari segi kemanusiaan dan ilmu kedokteran,
bahkan pada tahun 490 M didirikan rumah
sakit di Yerusalem untuk para pasien penyakit mental. Tapi sampai sejarah
modern belakangan ini, sumbangan sumbangan yang besar terhadap kesehatan fisik
dan mental manusia datang dari orang Yunani. Beberapa pandangan dalam pemikiran
Yunani yang sangat penting yaitu dengan dilakukannya penelitian dan terminologi
psikiatri modern. Namun lain hal nya dengan Persia, disana setan-setan
dipersalahkan karena menyebabkan penyakit-penyakit mental dan segala penyakit
lain. Mental yang baik atau kekuatan psikis/jiwa selalu mencari kesucian,
kebajikan dan kebaikan hati. Di Cina, orang-orang memandang bahwa gangguan
mental dilihat sebagai penyakit dan dianggap sebagai gangguan proses alam atau
ketidakseimbangan antara Yin dan Yang. Sedangkan masyarakat di Afrika
berpendapat bahwa gangguan-gangguan fisik dan mental disebabkan oleh musuh, roh
jahat atau oleh nenek moyang yang marah.
Ø
ABAD
PERTENGAHAN ( ABAD GELAP)
Pada abad pertengahan, gangguan mental tidak dianggap
sebagai penyakit. Banyak kebiasaan yang telah dilakukan dalam ilmu kedokteran
sebelumnya tidak dilanjutkan dan hal yang lebih buruk seperti takhayul dan ilmu
tentang setan malah dihidupkan kembali. Exorcisme pada abad ini digunakan
sebagai perawatan orang yang mengalami gangguan mental. Yaitu dengan
menggunakan mantra- mantra dan jimat-jimat. Pada tahun 1600an (dan sebelumnya),
Orang yang sakit secara mental dahulu kala dianggap sebagai “orang yang
kesurupan” yang mengalami gangguan
mental dimasuki oleh roh-roh. Maka dari itu penyembuhannya pun juga melalui
Healer, Shaman atau penyembuh yang lebih dikenal dengan istilah Dukun.
Ø
ZAMAN
RENAISANS
Saat para pasien sakit mental tenggelam dalam dunia
takhayul, zaman ini tepatnya digambarkan sebagai “terang dalam kegelapan”. Di
Switzerland, mengakui penyebab rasional penyakit mental dan menolak adanya
kaitan dengan Demonology. Di Prancis,
lebih menggunakan pendekatan yang manusia terhadap para pasien sakit mental, menganggap
bahwa penyakit mental tidak berbeda dengan penyakit fisik. Tahun 1724, Pendeta
Cotton Mather menjelaskan masalah kejiwaan yang menyebabkan gangguan yang
terjadi di dalam tubuh sekaligus mematahkan takhayul yang berkembang selama
ini.
Ø
ABAD
XVII – ABAD XX
Pada abad ini masih merupakan proses peralihan dan
pendekatan demonologis ke pendekatan ilmiah terhadap penyakit mental karena
memang tidak terjadi dalam waktu yang singkat. Disini dipusatkan pada
klasifikasi dan system, suatu hal yang mungkin sama dengan analisis system.
Kekangan-kekangan yang sangat kejam terhadap para pasien sakit mental dan
menyarankan agar memberikan perawatan yang manusiawi terhadap orang-orang gila
di Jerman sangat ditentang. Tahun 1812, Benjamin Rush menjadi orang pertama
yang mencoba menangani penyakit mental secara manusiawi. Lalu di Inggris,
muncul optimisme dalam menangani pasien sakit jiwa dengan perkembangan teori
dan teknik untuk menangani orang sakit jiwa ini di rumah sakit. Walaupun dalam
prakteknya sering mengalami kegagalan sehingga lambat launpun muncul masa terapi
pesimisme. Tahun 1908, Clifford Beers yang pernah menjadi pasien rumah sakit
jiwa dengan penanganan yang benar maupun yang salah mengeluarkan buiku “A Mind That Found Itself”. Buku tersebut
langsung memberikan efek yaitu menyebarkan visinya mengenai gerakan kesehatan
mental. Beers lalu mendirikan Masyarakat Connecticut yang merupakan akar dari
Asosiasi Kesehatan Mental Nasional. Dan pada tahun 1950, diteruskan untuk
melanjutkan mendidik publik Amerika pada isu-isu kesehatan mental dan
mempromosikan kesadaran akan kesehatan mental.
Ø
PSIKIATRI
Pada tahun 1900-an, gangguan mental dianggap sebagai
bukan penyakit. Dilakukannya usaha untuk menolong para pasien sakit mental
tetapi akhir abad itu dokter-dokter belum menemukan penyebab atau pencegahan,
penyembuhan atau perawatan yang efektif terhadap penyakit mental meskipun
mereka telah mengklasifikasikan beribu-ribu macam kekalutan mental. Selama abad
ke-19 perkembangan dalam kesehatan mental terjadi pada 4 bidang umum : (1). Perlakuan
terhadap pasien sakit mental yang lebih manusiawi dan rasional oleh masyarakat,
(2). Langkah-langkah untuk memperbaiki lembaga untuk penyakit mental, (3). Perhatian
para penulis besar dan filsuf yang berpengaruh terhadap psikologi dan tingkah
laku manusia, dan (4). Suatu system klasifikasi yang komprehensif bagi
kekalutan mental. Tahun 1952, Obat antipsikotik konvensional pertama, chlorpromazine diperkenalkan untuk
pertama kalinya dan digunakan untuk menangani pasien skizofrenia dan gangguan
mental utama lainnya. Juga adanya pengenalan obat-obat antipsikotik
konvensional. Selain itu media Inggris juga mengungkapkan kesehatan mental
melalui orang-orang yang pernah mengalaminya. Tahun 1979, NAMH menjadi the
National Mental Health Association (NAMH).
III.
PENDEKATAN
KESEHATAN MENTAL
Dalam
mendefinisikan kesehatan mental banyak tokoh yang memiliki pendapat
masing-masing mengenai Kesehatan Mental. Dengan beragamnya pengertian kesehatan
mental, menjadikan merumuskan pengertian kesehatan mental secara komprehensif
menjadi suatu hal yang tidak mudah dilakukan. Untuk membantu memahami makna
kesehatan mental, terdapat prinsip-prinsip yang dapat dijadikan sebagai
pegangan bagi kita. Prinsip-prinsip pengertian kesehatan mental adalah sebagai
berikut : (1) Kesehatan mental adalah lebih dari tiadanya perilaku abnormal (2)
Kesehatan mental adalah konsep yang ideal (3) Kesehatan mental sebagai bagian
dan karakteristik kualitas hidup.
Kesehatan
mental bukanlah disiplin ilmu yang berdiri sendiri, kesehatan mental ini
terdiri dari banyak bidang ilmu baik yang secara langsung membidangi kesehatan
ataupun tidak. Dibalik berbagai konsep kesehatan mental beberapa ahli menemukan
orientasi umum dan pola wawasan mental. Salah satu yang mengembangkan orientasi
umum dan pola wawasan mental ini adalah Saparinah
Sadli. Beliau mengemukakan tiga macam orientasi besar dalam kesehatan
mental. Pertama Orientasi Klasik, Orientasi Penyesuaian Diri dan yang
terakhir adalah Orientasi Pengembangan Potensi.
1.
Orientasi
Klasik
Orientasi
klasik menurut Saparinah Sadli adalah “ Seseorang dianggap sehat apabila ia
tidak mempunyai keluhan tertentu seperti ketegangan, rasa lelah, cemas, rendah
diri atau perasaan tidak berguna yang semuanya menimbulkan perasaan sakit atau
rasa tidak sehat, serta menggangu efisiensi kegiatan sehari-hari ”. Dalam
definisi ini, orientasi klasik mengemukakan orang yang sehat berarti orang yang
tidak mempunyai berbagai keluhan yang berakibat sakit untuk dirinya di dalam
kehidupan sehari-hari. Seperti tidak cepat merasa lelah, cemas, tidak percaya
diri, cepat putus asa, perasaan tidak berguna dan lain sebagainya. Biasanya
ranah cakupan orientasi klasik ini banyak berkembang didunia kedokteran.
2.
Orientasi
Penyesuain Diri
Orientasi
penyesuaian diri adalah “Seseorang dianggap sehat mental bila ia mampu
mengembangakan dirinya sesuai dengan tuntutan orang-orang lain serta lingkungan
sekitarnya ”. Definisi diatas berarti orang dikatan sehat apabila ia mampu
bergaul dengan orang-orang disekitarnya. Karena manusia adalah makhluk sosial
yang tidak akan pernah bisa untuk hidup sendiri tanpa bantuan orang lain.
3.
Orientasi
Pengembangan Potensi
Orientasi
pengembangan potensi menurut Saparinah Sadli adalah “ Seseorang dianggap
mencapai taraf kesehatan jiwa bila ia mendapat kesempatan untuk mengembangkan
potensialitasnya menuju kedewasaan sehingga ia bisa dihargai oleh orang lain
dan dirinya sendiri ” . Definisi diatas berarti orang dikatakan sehat apabila
ia berhasil mengembangkan dirinya sesuai dengan bakat dan kreativitas yang ia
miliki sehingga ia bisa dihargai oleh masyarakat diluar sana.
REFRENSI :
Basuki, Heru. (2008). Psikologi
Umum. Jakarta : Universitas Gunadarma.
Rochman, Kholil Lur. (2010). Kesehatan Mental. Yogyakarta
:
Fajar Media
Press.
Schultz, Duane. (1991). Psikologi Pertumbuhan : Model-model
Kepribadian Sehat. Yogyakarta : PT Kanisius.
Kepribadian Sehat. Yogyakarta : PT Kanisius.
B. TEORI
KEPRIBADIAN SEHAT
Apakah itu
kepribadian yang sehat? Apakah sifat-sifat orang yang memiliki kepribadian yang
sehat? Bagaimanakah tingkah laku, pikiran, serta perasaan orang ini? Dapatkah
anda atau saya menjadi pribadi yang sehat?
Pertanyaan-pertanyaan
ini terus menerus ditanyakan bukan hanya oleh ahli-ahli psikologi tetapi juga
oleh berjuta-juta orang lain. Dapat diramalkan, tidak jauh di balik
pertanyaan-pertanyaan ini, telah muncul bermacam-macam jawaban -suatu arus
buku-buku untuk pertolongan terhadap diri sendiri, kepercayaan-kepercayaan yang
membimbing, janji-janji tentang gaya hidup baru- beberapa jawaban terlalu
sederhana dan dangkal (dan tidak berguna) sedangkan jawaban-jawaban lainnya
memiliki nilai potensial dalam membantu kita untuk memahami diri kita dengan
lebih baik.
“Ahli-ahli
psikologi pertumbuhan” ini (kebanyakan di antara mereka memandang diri mereka
sebagai ahli-ahli psikologi humanistik) telah memiliki suatu pandangan yang
segar terhadap kodrat manusia. Apa yang mereka lihat adalah suatu tipe orang
yang berbeda dari apa yang digambarkan behaviorisme dan psikoanalisis,
bentuk-bentuk psikologi tradisional.
Ahli-ahli
psikologi humanistik semakin kritis terhadap tradisi-tradisi ini, karena mereka
percaya bahwa behaviorisme dan psikoanalisis memberikan pandangan-pandangan
terbatas tentang kodrat manusia, mengabaikan puncak-puncak yang akan didaki
oleh orang-orang yang memiliki potensi. Tuduhan dari pengeritik-pengeritik ini
ialah bahwa behaviorisme memperlakukan manusia sebagai suatu mesin- “ suatu
sistem kompleks yang bertingkah laku menurut cara-cara yang sesuai dengan hukum”.
Individu
digambarkan sebagai suatu organisme yang tersusun baik, teratur, dan ditentukan
sebelumnya, dengan spontanitas, kegembiraan hidup, dan kreativitas, seperti
suatu alat pengatur panas. Psikoanalisis telah member kepada kita hanya sisi
yang sakit atau pincang dari kodrat manusia karena hanya berpusat pada tingkah
laku yang neurotis dan psikotis. Freud dan orang-orang yang mengikuti
ajaran-ajarannya mempelajari kepribadian yang terganggu secara emosional, bukan
kepribadian yang sehat, yang paling buruk dari kodrat manusia, bukan yang
paling baik.’
Baik
behaviorisme maupun psikoanalisis tidak berbicara mengenai potensi kita untuk
bertumbuh, keinginan kita untuk menjadi lebih baik atau lebih banyak daripada
yang ada. Tentu saja segi-segi pandangan ini melihat oleh para behavioris
sebagai orang-orang yang memberikan respons secara pasif terhadap
stimulus-stimulus dari luar dan oleh ahli-ahli psikoanalisis sebagai korban
dari kekuatan-kekuatan biologis dan konflik-konflik masa kanak-kanak.
I.
ALIRAN
PSIKOANALISIS
Sumbangan
Freud dalam teori psikologi kepribadian substansial sekaligus kontoversial.
Teori Psikoanalisis, menjadi teori yang paling komprehensif di antara teori kepribadian
lainnya, namun juga mendapat tanggapan yang paling banyak. Peran penting dari
ketidaksadaran beserta insting-insting seks dan agresi yang ada di dalamnya
dalam pengaturan tingkah laku, menjadi karya atau temuan monumental Freud.
Teori
psikologi Freud didasari pada keyakinan bahwa dalam diri manusia terdapat suatu
energi psikis yang sangat dinamis. Energi psikis inilah yang mendorong individu
untuk bertingkah laku. Menurut psikoanalisis, energi psikis itu berasumsi pada
fungsi psikis yang berbeda yaitu : Id, Ego dan Super Ego.
ID
Id adalah sistem kepribadian yang asli, di bawa sejak lahir. Saat di lahirkan, Id berisi semua aspek psikologi yang di turunkan, seperti : insting, impuls dan drives. Id beroperasi berdasarkan prinsip kenikmatan (pleasure principle), yaitu berusaha memperoleh kenikmatan dan menghindari rasa sakit. Id hanya mampu membayangkan sesuatu, tanpa mampu membedakan khayalan itu dengan kenyataan yang benar-benar memuaskan kebutuhan. Id tidak mampu menilai atau membedakan benar-salah, tidak tahu moral. Jadi harus dikembangkan jalan memperoleh khayalan itu secara nyata, yang memberi kepuasan tanpa menimbulkan ketegangan baru khususnya masalah moral.
Id adalah sistem kepribadian yang asli, di bawa sejak lahir. Saat di lahirkan, Id berisi semua aspek psikologi yang di turunkan, seperti : insting, impuls dan drives. Id beroperasi berdasarkan prinsip kenikmatan (pleasure principle), yaitu berusaha memperoleh kenikmatan dan menghindari rasa sakit. Id hanya mampu membayangkan sesuatu, tanpa mampu membedakan khayalan itu dengan kenyataan yang benar-benar memuaskan kebutuhan. Id tidak mampu menilai atau membedakan benar-salah, tidak tahu moral. Jadi harus dikembangkan jalan memperoleh khayalan itu secara nyata, yang memberi kepuasan tanpa menimbulkan ketegangan baru khususnya masalah moral.
EGO
·
Ego
berkembang dari Id agar orang mampu menangani realita, sehingga ego
beroperasi mengikuti prinsip realita (reality principle). Ego adalah eksekutif kepribadian berusaha memenuhi kebutuhan id sekaligus juga memenuhi kebutuhan moral dan kebutuhan berkembang-mencapai-kesempurnaan dari superego. Ego sesungguhnya bekerja untuk memuaskan Id, karena itu ego yang tidak memiliki energi sendiri akan memperoleh energi dari Id.
beroperasi mengikuti prinsip realita (reality principle). Ego adalah eksekutif kepribadian berusaha memenuhi kebutuhan id sekaligus juga memenuhi kebutuhan moral dan kebutuhan berkembang-mencapai-kesempurnaan dari superego. Ego sesungguhnya bekerja untuk memuaskan Id, karena itu ego yang tidak memiliki energi sendiri akan memperoleh energi dari Id.
SUPEREGO
· 1.
Fase
Oral (0-1 tahun)
·
Superego
adalah kekuatan moral dan etik dari kepribadian, yang beroperasi
memakai prinsip idealistk (idealistic principle) sebagai lawan dari prinsip kepuasan Id dan prinsip realistik ego. Superego bersifat non-rasional dalam menuntut kesempurnaan, menghukum dengan keras kesalahan ego, baik yang telah dilakukan maupun baru dalam pikiran. Menurut Freud fase-fase perkembangan individu didorong oleh energi psikis yang disebut libido. Libido insting kehidupan yang bersifat seksual yang ada sejak manusia lahir. Freud membagi perkembangan kepribadian menjadi tiga tahapan, yakni
tahap infantil (0-5 tahun), tahap laten (5-12 tahun) dan tahap genital (>12 tahun). Tahap infantil yang paling menentukan dalam membentuk kepribadian, terbagi menjadi tiga fase yakni fase oral, fase anal, dan fase phalik.
memakai prinsip idealistk (idealistic principle) sebagai lawan dari prinsip kepuasan Id dan prinsip realistik ego. Superego bersifat non-rasional dalam menuntut kesempurnaan, menghukum dengan keras kesalahan ego, baik yang telah dilakukan maupun baru dalam pikiran. Menurut Freud fase-fase perkembangan individu didorong oleh energi psikis yang disebut libido. Libido insting kehidupan yang bersifat seksual yang ada sejak manusia lahir. Freud membagi perkembangan kepribadian menjadi tiga tahapan, yakni
tahap infantil (0-5 tahun), tahap laten (5-12 tahun) dan tahap genital (>12 tahun). Tahap infantil yang paling menentukan dalam membentuk kepribadian, terbagi menjadi tiga fase yakni fase oral, fase anal, dan fase phalik.
Pada
fase ini, anak mendapatkan kenikmatan dan kepuasan dengan berorientasi pada
mulut. Kontak sosial lebih bersifat fisik seperti menyusui. Peran sosial
biasanya dipegang oleh ibu.
2.
Fase
Anal (1-3 tahun)
Pada
fase ini kenikmatan berpusat didaerah anus, seperti saat buang air besar.
Mengeluarkan faces atau kotoran menghilangkan perasaan tekanan yang tidak
menyenangkan dari akumulasi sisa makanan. Sepanjang tahap anal, latihan defaksi
(toilet training) memaksa anak untuk
belajar menunda kepuasan bebas dari tegangan anal. Freud yakin toilet trainning adalah bentuk mula dari
belajar memuaskan id dan superego sekaligus.
3.
Fase
Phalik (3-5 tahun)
Pusat
kepuasan pada fase ini adalah alat kelamin. Anak mulai tertarik pada perbedaan
anatomis laki-laki dan perempuan dan biasanya difigurkan oleh ayah dan ibu.
Pada anak laki-laki terjadi Oedipus Complex atau gairah seksual. Oedipus
kompeks adalah kateksis obyek seksual kepada orang tua yang berlawanan jenis
serta permusuhan terhadap orang tua sejenis.
4.
Fase
Laten (5-13 tahun)
Pada
fase laten, anak mengembangkan kemampuan sublimasi, yakni mengganti kepuasan
libido dengan kepuasan nonseksual khususnya bidang intelektual, atletik,
keterampilan dan hubungan teman sebaya.
5.
Fase
Genital (13 tahun- dewasa)
Fase
ini dimulai dengan perubahan biokimia dan fisiologi dalam diri remaja. Sistem
endokrin memproduksi hormon-hormon yang memicu pertumbuhan tanda-tanda seksual
sekunder (suara, rambut, buah dada dll) dan pertumbuhan tanda seksual primer.
Kepribadian
Sehat menurut Psikoanalisis, yaitu :
1) Menurut
Freud kepribadian yang sehat yaitu jika individu bergerak menurut pola
perkembangan yang ilmiah.
2)
Kemampuan
dalam mengatasi tekanan dan kecemasan dengan belajar.
3)
Mental
yang sehat ialah seimbangnya fungsi dari superego terhadap id dan ego.
4)
Tidak
mengalami gangguan dan penyimpangan pada mentalnya.
5)
Dapat
menyesuaikan keadaan dengan berbagai dorongan dan keinginan.
II.
ALIRAN
BEHAVIORISTIK
Behaviorisme
adalah sebuah aliran dalam psikologi yang didirikan oleh John B. Watson pada
tahun 1913 yang berpendapat bahwa perilaku harus merupakan unsur subyek tunggal
psikologi. Behaviorisme merupakan aliran revolusioner, kuat dan berpengaruh,
serta memiliki akar sejarah yang cukup dalam. Behaviorisme lahir sebagai reaksi
terhadap introspeksionisme (yang menganalisis jiwa manusia berdasarkan
laporan-laporan subjektif) dan juga psikoanalisis (yang berbicara tentang alam
bawah sadar yang tidak tampak). Behaviorisme secara keras menolak unsur-unsur
kesadaran yang tidak nyata sebagai obyek studi dari psikologi, dan membatasi
diri pada studi tentang perilaku yang nyata. Dengan demikian, Behaviorisme
tidak setuju dengan penguraian jiwa ke dalam elemen seperti yang dipercayai
oleh strukturalism. Berarti juga behaviorisme sudah melangkah lebih jauh dari
fungsionalisme yang masih mengakui adanya jiwa dan masih memfokuskan diri pada
proses-proses mental.
Behaviorisme
ingin menganalisis bahwa perilaku yang tampak saja yang dapat diukur,
dilukiskan, dan diramalkan. Behaviorisme memandang pula bahwa ketika
dilahirkan, pada dasarnya manusia tidak membawa bakat apa-apa. Manusia akan
berkembang berdasarkan stimulus yang diterimanya dari lingkungan sekitarnya.
Lingkungan yang buruk akan menghasilkan manusia buruk, lingkungan yang baik
akan menghasilkan manusia baik. Kaum behavioris memusatkan dirinya pada
pendekatan ilmiah yang sungguh-sungguh objektif. Kaum behavioris mencoret dari
kamus ilmiah mereka, semua peristilahan yang bersifat subjektif, seperti
sensasi, persepsi, hasrat, tujuan, bahkan termasuk berpikir dan emosi, sejauh
kedua pengertian tersebut dirumuskan secara subjektif.
Kepribadian yang sehat menurut behavioristik, yaitu :
1)
Memberikan
respon terhadap faktor dari luar seperti orang lain dan lingkungannya.
2)
Bersifat
sistematis dan bertindak dengan dipengaruhi oleh pengalaman sangat dipengaruhi
oleh faktor eksternal, karena manusia tidak memiliki sikap dengan bawaan
sendiri.
3)
Menekankan
pada tingkah laku yang dapat diamati dan menggunakan metode yang objektif.
III.
ALIRAN
HUMANISTIK
Abraham Maslow
(1908-1970) dapat dipandang sebagai bapak dari Psikologi Humanistik. Gerakan
ini merasa tidak puas terhadap psikologi behavioristik dan psikoanalisis dan
memfokuskan penelitiannya pada manusia dengan ciri-ciri eksistensinya.
Psikologi Humanistik mulai di Amerika Serikat pada tahun 1950 dan terus
berkembang. Tokoh-tokoh Psikologi Humanistik memandang behaviorisme
mendehumanisasi manusia. Psikologi Humanistik mengarahkan perhatiannya pada
humanisasi psikologi yang menekankan keunikan manusia. Menurut Psikologi
Humanistik manusia adalah mahkluk kreatif yang dikendalikan oleh nilai-nilai
dan pilihan-pilihannya sendiri bukan oleh kekuatan-kekuatan ketidaksadaran.
Menurut Maslow
psikologi harus lebih manusiawi, yaitu lebih memusatkan perhatiannya pada
masalah-masalah kemanusiaan. Psikologi harus mempelajari kedalaman sifat
manusia, selain mempelajari yang nampak, juga mempelajari perilaku yang tidak
nampak, mempelajari ketidaksadaran sekaligus mempelajari kesadaran. Instropeksi
sebagai suatu metode penelitian yang telah di singkirkan, harus dikembalikan
lagi sebagai metode penelitian psikologi (Walgito, B.2002:78).
1.
PANDANGAN
ALIRAN HUMANISTIK TENTANG KEPRIBADIAN SEHAT
Kepribadian
yang sehat menurut humanistik, perilaku yang mengarah pada aktualisasi diri :
1) Menjalani
hidup seperti seorang anak, dengan penyerapan dan konsentrasi sepenuhnya.
2) Mencoba
hal-hal baru ketimbang bertahan pada cara-cara yang aman dan tidak berbahaya.
3) Lebih
memperhatikan perasaan diri dalam mengevaluasi pengalaman ketimbang suara
tradisi, otoritas, atau mayoritas.
4)
Jujur.
Menghindari kepura-puraan dalam “bersandiwara”.
5) Siap
menjadi orang yang tidak popular bila mempunyai pandangan sebagian besar orang.
6)
Memikul
tanggung jawab.
7)
Bekerja
keras untuk apa saja yang ingin dilakukan.
2.
MEMBEDAKAN
ALIRAN PSIKOANALISA, ALIRAN BEHAVIORISTIK, ALIRAN HUMANISTIK TENTANG
KEPRIBADIAN SEHAT
1)
Psikoanalisa
Aliran
psikoanalisa melihat manusia dari sisi negatif, alam bawah sadar (id, ego,
super ego), mimpi dan masa lalu. Aliran ini mengabaikan potensi yang dimiliki
oleh manusia. Pandangan kaum psikoanalisa, hanya memberi kepada kita sisi yang
sakit atau kurang, ‘sisi yang pincang’ dari kodrat manusia, karena hanya berpusat
pada tingkah laku yang neurotis dan psikotis.
Sigmund Freud
dan orang-orang yang mengikuti ajarannya mempelajari kepribadian yang terganggu
secara emosional, bukan kepribadian yang sehat atau kepribadian yang paling
buruk dari kodrat manusia, bukan yang paling baik. Jadi, aliran ini memberi
gambaran pesimis tentang kodrat manusia dan manusia dianggap sebagai korban
dari tekanan-tekanan biologis dan
konflik masa kanak-kanak.
2)
Behaviorisme
Aliran
behaviorisme memperlakukan manusia sebagai mesin, yaitu di dalam suatu sistem
kompleks yang bertingkah laku menurut cara-cara yang sesuai dengan hukum. Dalam
pandangan kaum behavioris, individu digambarkan sebagai suatu organisme yang
bersifat baik, teratur, dan ditentukan sebelumnya, dengan banyak spontanitas,
kegembiraan hidup, berkreativitas, seperti alat pengatur panas. Jadi, manusia
dilihat oleh para behavioris sebagai orang-orang yang memberikan respons secara
pasif terhadap stimulus-stimulus dari luar dan manusia di anggap tidak memiliki
diri sendiri.
3)
Humanistik
Para ahli
psikologi humanistik, telah memiliki sudut pandang yang segar terhadap kodrat
manusia. Apa yang mereka lihat adalah suatu tipe individu yang berbeda dari apa
yang digambarkan oleh behaviorisme dan psikoanalisa, yaitu bentuk-bentuk
psikologi tradisional. Aliran ini menganggap setiap orang memiliki kemampuan
untuk lebih baik. Bagi ahli-ahli psikologi humanistik, manusia jauh lebih
banyak memiliki potensi. Meskipun kebanyakan ahli psikologi humanistik tidak menyangkal
bahwa stimulus-stimulus dari luar, instink-instink, dan konflik-konflik masa
kanak-kanak mempengaruhi kebribadian, namun mereka tidak percaya bahwa manusia
merupakan korban yang tidak dapat
berubah dari kekuatan-kekuatan negatif. .
Manusia harus
dapat mengatasi masa lampau, kodrat biologis, dan ciri-ciri lingkungan. Manusia
juga harus berkembang dan tumbuh melampaui kekuatan-kekuatan negatif yang
secara potensial menghambat. Gambaran ahli psikologi humanistik tentang kodrat
manusia adalah optimis dan penuh harapan. Mereka percaya terhadap kapasitas
manusia untuk memperluas, memperkaya, mengembangkan, dan memenuhi dirinya untuk
menjadi semuanya menurut kemampuan yang ada.
Para pendukung
gerakan potensi manusia mengemukakan bahwa ada suatu tingkat pertumbuhan dan
perkembangan yang sangat diperlukan yang melampaui ’normalitas’. Mereka
berpendapat bahwa manusia perlu memperjuangkan tingkat pertumbuhan yang lebih
maju supaya merealisasikan atau mengaktualisasikan semua potensinya dan tidak
cukup hanya seseorang bebas dari sakit emosional. Dengan kata lain, tidak
adanya tingkah laku neurotis atau psikotis, tidak cukup untuk menilai seseorang
sebagai pribadi yang sehat. Tidak adanya sakit emosional hanya merupakan suatu
langkah pertama yang diperlukan untuk pertumbuhan dan pemenuhan, karena seorang
individu harus mencapai sesuatu yang lebih jauh lagi.
IV.
PENDAPAT
ALPORT
1. PERKEMBANGAN
PROPRIUM SEBAGAI DASAR PERKEMBANGAN
KEPRIBADIAN YANG SEHAT
Allport ingin
menghilangkan kontradiksi-kontradiksi dan kekaburan-kekaburan yang terkandung
dalam pembicaraan-pembicaraan tentang “diri” dengan membuang kata itu dan
menggantikannya dengan suatu kata lain yang akan membedakan konsepnya tentang
“diri” dari semua konsep lain. Istilah yang dipilihnya adalah proprium dan dapat didefinisikan dengan
memikirkan bentuk sifat “propriate” seperti dalam kata “appropriate”. Proprium menunjukkan kepada sesuatu yang
dimiliki seseorang atau unik bagi seseorang. Itu berarti bahwa proprium (atau self) terdiri dari
hal-hal atau proses-proses yang penting dan bersifat pribadi bagi seorang
individu, segi-segi yang menentukan seseorang sebagai yang unik. Allport
menyebutnya “saya sebagaimana dirasakan dan diketahui”.
Proprium
itu berkembang dari masa bayi sampai masa adolesensi melalui tujuh tingkat
"diri". Apabila semua segi perkembangan telah muncul sepenuhnya, maka
segi-segi tersebut dipersatukan dalam satu konsep proprium. Jadi, proprium
adalah susunan dari tujuh tingkat "diri" ini.
1)
“Diri”
Jasmaniah. Kita tidak dilahirkan
dengan suatu perasaan tentang diri, perasaan tentang diri bukan bagian dari
warisan keturunan kita. Bayi tidak dapat membedakan antara diri (”saya”) dan
dunia sekitarnya. Berangsur-angsur, dengan makin bertambah kompleksnya belajar
dan pengalaman-pengalaman perseptual, maka akan berkembang suatu perbedaan yang
kabur antara sesuatu yang ada ”dalam saya” dan hal-hal lain “diluarnya”. Ketika
bayi menyentuh, melihat, mendengar dirinya, orang-orang lain, dan benda-benda,
perbedaan itu menjadi lebih jelas. Kira-kira pada usia 15 bulan, maka muncullah
tingkat pertama perkembangan proprium-diri jasmaniah.
2) Identitas
Diri. Pada tingkatan
kedua perkembangan, muncullah perasaan identitas
diri. Anak mulai sadar akan identitasnya yang berlangsung terus sebagai
seorang yang terpisah. Allport berpendapat bahwa segi yang sangat penting dalam
identitas diri adalah nama orang. Nama itu menjadi lambang dari kehidupan
seseorang yang mnegenal dirinya dan membedakannya dari semua diri yang lain di
dunia.
3) Harga
Diri. Tingkat ketiga
dalam perkembangan proprium ialah
timbulnya harga diri. Hal ini
menyangkut perasaan bangga dari anak sebagai suatu hasil dari belajar
mengerjakan benda-benda atas usahanya sendiri. Pada tingkat ini, anak ingin
membuat benda-benda, menyelidiki dan memuaskan perasaan ingin tahunya tentang
lingkungan, memanipulasi dan mengubah lingkungan itu. Allport percaya bahwa hal
ini merupakan suatu tingkat perkembangan yang menentukan, apabila orang tua
menghalangi kebutuhan anak untuk menyelidiki maka perasaan harga diri yang
timbul dapat dirusakkan. Akibatnya dapat timbul perasaan hina dan marah.
4)
Perluasan Diri (Self Extension). Tingkat
perkembangan diri berikutnya, perluasan diri, mulai sekitar usia 4 tahun. Anak
sudah mulai menyadari orang-orang lain dan benda-benda dalam lingkungannya dan
fakta bahwa beberapa diantaranya adalah milik anak tersebut.
5) Gambaran
Diri. Gambaran diri
berkembang pada tingkat berikutnya. Hal ini menunjukan bagaimana anak melihat
dirinya dan pendapatnya tentang dirinya. Gambaran ini (atau rangkaian
gambaran-gambaran) berkembang dari interaksi-interaksi antara orang tua dan
anak.
6) Diri
Sendiri Pelau Rasional. Setelah
anak mulai sekolah, diri sebagai prilaku rasional mulai timbul. Aturan-aturan
dan harapan-harapan baru dipelajari dari guru-guru dan teman sekolah serta hal
yang lebih penting ialah diberikannya aktivitas-aktivitas dan
tantangan-tantangan intelektual. Anak belajar bahwa dia dapat memecahkan
masalah-masalah dengan menggunakan proses-proses yang logis dan rasional.
7) Perjuangan
Proprium (Propriate Striving). Dalam masa
adolesensi, Perjuangan Proprium (Propriate Striving) –tingkat terakhir
dalam perkembangan diri (selfhood)-
timbul. Allport percaya bahwa masa adolesensi merupakan suatu masa yang sangat
menentukan. Orang sibuk dalam mencari identitas diri yang baru, sangat berbeda
dari identitas diri pada usia 2 tahun.
2.
CIRI-CIRI
KEPRIBADIAN YANG MATANG MENURUT ALPORT
Tujuh kriteria
kematangan ini merupakan pandangan-pandangan Allport tentang sifat-sifat khusus
dari kepribadian sehat.
1)
Perluasan
Perasaan Diri
Ketika diri
berkembang, maka diri itu meluas menjangkau banyak orang dan benda. Mula-mula
diri berpusat hanya pada individu, kemudian ketika lingkaran pengalaman
bertumbuh maka diri bertambah luas meliputi nilai-nilai dan cita-cita yang
abstrak. Dengan kata lain, ketika orang menjadi matang, dia mengembangkan
perhatian-perhatian diluar diri. Akan tetapi, tidak cukup hanya berinteraksi
dengan sesuatu dan seseorang diluar diri, seperti pekerjaan. Orang harus
menjadi partisipan yang langsung dan penuh. Allport menamakan hal ini
”partisipasi otentik yang dilakukan oleh orang dalam beberapa suasana yang
penting dari usaha manusia”. Orang harus meluaskan diri ke dalam aktivitas.
2)
Hubungan
Diri yang Hangat dengan Orang-Orang Lain
Allport membedakan
dua macam kehangatan dalam hubungan dengan orang-orang lain. Kapasitas untuk
keintiman dan kapasitas untuk perasaan terharu.
Orang yang
sehat secara psikologis mampu memperhatikan keintiman (cinta) terhadap orang
tua, anak, partner, teman akrab. Apa yang dihasilkan oleh kapasitas untuk
keintiman ini adalah suatu perasaan perluasan diri yang berkembang baik. Orang
mengungkapkan partisipasi otentik dengan orang dicintai dan memperhatikan
kesejahteraannya; hal ini sama pentingnya dengan kesejahteraan individu
sendiri. Syarat lain bagi kepastian untuk keintiman ialah suatu perasaan diri
yang berkembang dengan baik.
3)
Keamanan
Emosional
Sifat dari
kepribadian yang sehat ini meliputi beberapa kualitas. Kualitas utama adalah
penerimaan diri. Kepribadian-kepribadian yang sehat mampu menerima semua segi
dari ada mereka, termasuk kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan tanpa
menyerah secara pasif pada kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan
tersebut. Misalnya, orang-orang yang matang dapat menerima dorongan seks mereka
tanpa menjadi terlalu sopan atau tertekan seperti yang dapat terjadi dengan
orang-orang yang neurotis. Orang-orang yang sehat mampu hidup dengan ini dan
segi-segi lain dalam kodrat manusia, dengan sedikit konflik dalam diri mereka
atau dengan masyarakat. Mereka berusaha bekerja sebaik mungkin dan dalam proses
mereka berusaha memperbaiki diri mereka.
4)
Persepsi
Realitis
Orang-orang
yang sehat memandang dunia mereka secara objektif. Sebaliknya, orang-orang yang
neurotis kerap kali harus merubah realitas supaya membuatnya sesuai dengan
keinginan-keinginan, kebutuhan-kebutuhan, dan ketakutan-ketakutan mereka
sendiri. Orang-orang yang sehat tidak perlu percaya bahwa orang-orang lain atau
situasi-situasi semuanya jahat atau semuanya baik menurut suatu prasangkan
pribadi terhadap realitas. Mereka menerima realitas sebagaimana adanya.
5)
Keterampilan-keterampilan
dan Tugas-tugas
Allport
menekankan pentingnya pekerjaan dan perlunya menenggelamkan diri sendiri
didalamnya. Keberhasilan dalam pekerjaan menunjukan perkembangan
keterampilan-ketrampilan dan bakat-bakat tertentu suatu tingkat kemampuan,
tetapi tidaklah cukup hanya memiliki keterampilan-keterampilan relevan, kita
harus menggunakan keterampilan-keterampilan itu secara ikhlas, antusias,
melibatkan dan menempatkan diri sepenuhnya dalam pekerjaan kita.
6)
Pemahaman
Diri
Kriterium ini
terkandung dalam petunjuk lama ”Kenalilah dirimu” tentu merupakan suatu tugas yang
sulit. Usaha untuk mengetahui diri secara objektif mulai pada awal kehidupan
dan tidak pernah berhenti, tetapi ada kemungkinan mencapai suatu tingkat
pemahaman diri (self objectification)
tertentu yang berguna dalam setiap usia. Kepribadian yang sehat mencapai suatu
tingkat pemahaman diri yang lebih tinggi dari pada orang-orang yang neurotis.
Orang yang
memiliki suatu tingkat pemahaman diri (self
objectification) yang tinggi atau wawasan diri tidak mungkin memproyeksikan
kualitas-kualitas pribadinya yang negatif kepada orang-orang lain. Orang itu
akan menjadi hakim yang saksama terhadap orang-orang lain, dan biasanya dia
diterima dengan baik oleh orang-orang lain. Allport juga mengemukakan bahwa
orang yang memiliki wawasan diri yang lebih baik adalah lebih cerdas dari pada
orang yang memiliki wawasan diri yang kurang.
7)
Filsafat
Hidup yang Mempersatukan
Orang-orang
yang sehat melihat kedepan, didorong oleh tujuan-tujuan dan rencana-rencana
jangka panjang. Orang-orang ini mempunyai suatu perasaan akan tujuan, suatu
tugas untuk bekerja sampai selesai, sebagai batu sendi kehidupan mereka dan ini
memberi kontinuitas bagi kepribadian mereka.
Allport
menyebut dorongan yang mempersatukan ini ”arah” (directness), dan lebih kelihatan pada kepribadian-kepribadian yang
sehat dari pada orang-orang yang neurotis. Arah itu membimbing semua segi
kehidupan seseorang menuju suatu tujuan (atau rangkaian tujuan) serta
memberikan orang itu suatu alasan untuk hidup. Kita membutuhkan tarikan yang
tetap dari tujuan-tujuan yang berarti, tanpa tujuan-tujuan itu kita mungkin
akan mengalami masalah-masalah kepribadian. Jadi, bagi Allport rupanya mustahil
memiliki suatu kepribadian yang sehat tanpa aspirasi-aspirasi dan arah kemasa
depan.
Memiliki
nilai-nilai yang kuat, jelas memisahkan orang yang sehat dari orang yang
neurotis. Orang yang neurotis tidak memiliki nilai-nilai atau hanya memiliki
nilai-nilai yang terpecah-pecah dan bersifat sementara. Nilai-nilai dari orang
yang neurotis tidak tetap atau tidak cukup kuat untuk mengikat atau
mempersatukan semua segi kehidupan.
REFRENSI :
Alwisol. (2009). Psikologi
Kepribadian. Malang : UMM Press.
Basuki, Heru. (2008). Psikologi
Umum. Jakarta : Universitas Gunadarma.
Riyanti, Dwi B.P., Prabowo, Hendro. (1998). Seri diktat kuliah psikologi
umum 2. Jakarta : Universitas Gunadarma.
umum 2. Jakarta : Universitas Gunadarma.
Schultz, Duane. (1991). Psikologi Pertumbuhan : Model-model
Kepribadian Sehat. Yogyakarta : PT Kanisius.
Kepribadian Sehat. Yogyakarta : PT Kanisius.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar